GemaWarta – 11 Agustus 2026 | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yakin bahwa Exchange Traded Fund (ETF) Emas di Indonesia bisa tumbuh pesat dan melampaui India dan Singapura. Keyakinan ini didasarkan pada potensi komoditas emas yang besar di Indonesia, termasuk cadangan emas yang dikelola Pegadaian yang mencapai USD20 miliar.
Menurut Airlangga, pengembangan industri emas secara utuh, mulai dari penambangan di sektor hulu hingga pemanfaatan emas sebagai perhiasan dan media investasi masyarakat di sektor hilir, sangat penting. Ia juga menekankan bahwa ETF Emas bisa menjadi instrumen yang fundamental dalam mengembangkan ekosistem investasi berbasis emas di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menekankan tiga hal penting dalam pengembangan pasar modal ke depan, yaitu pendalaman pasar modal, memperkuat ekosistem emas nasional, dan inovasi yang harus selalu berjalan bersama integritas.
Di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas, harga emas dunia terus meningkat. Bahkan, harga emas dunia telah menyentuh kisaran USD4.400 per ons pada perdagangan hari Selasa. Kenaikan harga emas ini didorong oleh penguatan permintaan investasi terhadap logam mulia dan pemborongan yang dilakukan oleh investor asal Tiongkok.
Bank Sentral Tiongkok juga telah menambah cadangan emas sekitar 20 ton pada bulan Juli, naik dari penambahan bulan Juni yang sebesar 15 ton. Langkah ini menjadi aksi penambahan cadangan bulanan terbesar yang dicatatkan Bank Sentral Tiongkok sejak Oktober 2023.
Dalam konteks Indonesia, provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan dua daerah yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam melimpah. Sumsel memiliki cadangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang masif, sementara NTB memiliki cadangan emas dan tembaga yang besar.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Maret 2026, persentase penduduk miskin di Sumsel tercatat sebesar 9,50 persen, atau mengalami penurunan 0,35 persen poin dibandingkan periode September 2025. Sementara itu, persentase kemiskinan di NTB pada Maret 2026 berada di angka 11,17 persen.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari fenomena ini adalah bahwa potensi komoditas emas di Indonesia sangat besar dan bisa menjadi salah satu pilar ekonomi negara. Namun, pengembangan industri emas secara utuh dan memperkuat ekosistem emas nasional sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.









