GemaWarta – 22 April 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (Program MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto kini menunjukkan dampak signifikan tidak hanya pada peningkatan gizi anak-anak, tetapi juga pada percepatan pertumbuhan ekonomi desa hingga wilayah perbatasan. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, petani sayur melaporkan kenaikan pendapatan antara 40 hingga 60 persen, sementara permintaan pasar meluas hingga ke dapur-dapur MBG di daerah perbatasan.
Di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, petani seperti Agus Irawan (34) menyampaikan bahwa komoditas utama seperti tomat, brokoli, sawi putih, selada, dan cabai kini diserap langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Permintaan tidak hanya datang dari tengkulak, tetapi juga dari program MBG,” ujar Agus. Kenaikan harga yang dirasakan petani berada pada rentang 40‑60 persen, tergantung jenis sayuran yang ditanam.
Bantuan pemerintah berupa pupuk NPK dan ZA yang disalurkan oleh Dinas Pertanian Jawa Tengah turut memperkuat produktivitas. Karisudin, petani lain di Dusun Pasah, menjelaskan bahwa pupuk tersebut memungkinkan mereka menyiapkan lahan menjelang musim kemarau Agustus, sehingga pasokan sayur tetap terjaga untuk program MBG.
Kelompok Tani Ngudi Santoso, yang dipimpin oleh Dianto (50), menyesuaikan pola tanam mereka dengan kebutuhan dapur MBG. Sayuran seperti selada, buncis, wortel, sawi, dan brokoli menjadi prioritas. “Bantuan pupuk berasal dari dana hasil cukai tembakau, sehingga kami dapat menanam sayur menjelang musim kemarau,” tambahnya.
Petani lain, Eko, mengonfirmasi bahwa permintaan pasar kini meningkat drastis. “Harga sayur naik, terutama brokoli, dan petani lebih semangat menanam,” kata Eko. Suwarno, petani lain di Selo, menilai kenaikan harga berada pada kisaran 20‑30 persen. Menurutnya, stabilitas harga dan peningkatan permintaan memberi rasa aman bagi petani untuk memperluas lahan dan meningkatkan produksi.
Selain manfaat ekonomi, Program MBG juga membuka lapangan kerja baru. Dapur-dapur MBG memerlukan tenaga kerja untuk pengolahan, distribusi, dan logistik bahan baku. Hal ini menciptakan peluang kerja bagi warga desa, terutama perempuan dan pemuda yang sebelumnya bergantung pada pekerjaan informal.
Berikut rangkuman manfaat utama yang dirasakan petani Boyolali:
- Kenaikan pendapatan 40‑60% pada komoditas sayur utama.
- Stabilisasi harga pasar, mengurangi fluktuasi musiman.
- Peningkatan permintaan dari dapur MBG dan pasar tradisional.
- Akses bantuan pupuk dan dukungan teknis dari pemerintah daerah.
- Penciptaan lapangan kerja di sektor pengolahan dan distribusi makanan bergizi.
Data lapangan kerja menunjukkan penambahan sekitar 150 posisi tenaga kerja tetap di wilayah Selo sejak peluncuran Program MBG pada awal 2025. Posisi tersebut meliputi operator dapur, pengemudi distribusi, dan staf administrasi.
Secara makro, dampak Program MBG pada perekonomian daerah terlihat dari peningkatan perputaran uang. Dengan harga sayur yang lebih tinggi, pendapatan petani meningkat, yang selanjutnya meningkatkan daya beli di pasar lokal. Hal ini memberi efek multiplier pada sektor usaha lain seperti toko kelontong, transportasi, dan layanan keuangan.
Para petani menekankan pentingnya keberlanjutan program. “Kami berharap MBG terus berlanjut, karena selain meningkatkan pendapatan, program ini membantu anak‑anak kami mendapatkan gizi yang cukup,” ujar Suwarno. Pemerintah pusat menanggapi dengan menyiapkan anggaran tambahan untuk memperluas jaringan dapur MBG ke wilayah perbatasan Indonesia‑Timor Leste, yang diharapkan dapat membuka pasar ekspor sayur segar.
Kesimpulannya, Program MBG tidak hanya berhasil meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi desa, meningkatkan produksi petani, menstabilkan harga, serta membuka lapangan kerja baru. Keberhasilan ini menjadi contoh kebijakan terintegrasi yang dapat direplikasi di daerah lain untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal.











