GemaWarta – 25 April 2026 | KOSPI menembus level tertinggi baru pada akhir April 2026, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor teknologi dan prospek pertumbuhan ekonomi Korea Selatan. Namun, di balik lonjakan ini, data terbaru menunjukkan bahwa enam dari sepuluh perusahaan yang terdaftar masih diperdagangkan di bawah nilai likuidasi asetnya, menegaskan keberlangsungan fenomena “Korea Discount” yang telah lama menjadi perhatian pasar.
Menurut data Korea Exchange per 22 April, 63,5% perusahaan di bursa utama (KOSPI) memiliki Price‑to‑Book Ratio (PBR) di bawah 1. Dari total 804 perusahaan, sebanyak 511 saham diperdagangkan lebih rendah dari nilai bukunya. Daftar perusahaan dengan PBR terendah mencakup KC Green Holdings (0,11), TY Holdings (0,11), Vivian (0,12), Aprogen Biologics (0,13), dan SUN&L (0,14). Di pasar KOSDAQ, persentase serupa juga terlihat, dengan 38,8% perusahaan berada di bawah PBR 1, termasuk Ocean in the W (0,10) dan Aptochrom (0,11).
PBR di bawah satu menandakan bahwa pasar menilai perusahaan kurang berharga dibandingkan aset bersihnya. Penyebab utama meliputi penurunan profitabilitas, rendahnya pengembalian kepada pemegang saham, serta struktur tata kelola yang kurang transparan. Selain itu, persepsi investor tentang masa depan perusahaan menjadi faktor kunci yang menurunkan penilaian.
- KC Green Holdings – PBR 0,11
- TY Holdings – PBR 0,11
- Vivian – PBR 0,12
- Aprogen Biologics – PBR 0,13
- SUN&L – PBR 0,14
Pemerintah dan regulator pasar modal Korea berupaya mengatasi masalah ini melalui kebijakan “Naming & Shaming” yang dijadwalkan mulai paruh kedua tahun ini. Setiap enam bulan, daftar perusahaan dengan PBR terendah akan dipublikasikan di situs Value‑Up, dan perusahaan yang berada di 20% terendah dalam industri selama dua periode berturut‑turut akan mendapat label khusus. Jika perusahaan menyusun rencana peningkatan nilai, mereka dapat dikecualikan sementara dari publikasi tersebut.
Hingga akhir bulan lalu, sebanyak 590 perusahaan telah mengajukan pengungkapan Value‑Up, dengan 307 di antaranya merupakan entitas yang terdaftar di KOSPI. Inisiatif ini menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya meningkatkan valuasi pasar, meski dampaknya masih dipertanyakan.
Di sisi lain, dinamika geopolitik juga memengaruhi pergerakan indeks. Pada 24 April, KOSPI ditutup datar setelah saham sektor pertahanan menguat, mengimbangi penurunan di sektor teknologi yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah. Kejadian ini menggarisbawahi sensitivitas pasar Korea terhadap faktor eksternal, meskipun tren jangka panjang tetap mengarah pada penguatan indeks.
Seorang legislator, Assemblywoman Kim Hyunjung (Partai Demokrat), mengusulkan RUU yang mewajibkan perusahaan dengan PBR di bawah 1 selama dua tahun berturut‑turut untuk menyusun dan mengungkapkan rencana peningkatan nilai. RUU tersebut belum pasti disahkan, namun mencerminkan upaya legislasi untuk mengatasi diskonto nilai saham secara struktural.
Para analis menilai bahwa tekanan dari kebijakan penamaan dan shaming serta dorongan legislasi dapat memicu perbaikan, namun efeknya bervariasi tergantung pada sektor. Sektor dengan prospek pertumbuhan tinggi, seperti farmasi (PBR 3,2 kali) dan elektronik (PBR 2,3 kali), tetap menunjukkan valuasi yang lebih kuat dibandingkan sektor tradisional seperti kertas, listrik, dan konstruksi yang berada di sekitar setengah nilai bukunya.
Selain kebijakan domestik, pandangan politik juga memengaruhi ekspektasi pasar. Pemimpin Partai Demokrat, Lee Jae Myung, menyatakan target KOSPI mencapai level 8.000 selama masa pemerintahannya, menandakan ambisi untuk mengangkat indeks secara signifikan melalui reformasi struktural dan kebijakan pro‑bisnis.
Secara keseluruhan, pencapaian rekor KOSPI menandai momentum positif bagi pasar saham Korea Selatan, namun keberadaan perusahaan dengan PBR di bawah nilai buku mengingatkan bahwa tantangan fundamental masih mengintai. Kombinasi kebijakan regulatif, inisiatif nilai‑up, dan tekanan geopolitik akan menjadi faktor penentu apakah “Korea Discount” dapat teratasi atau tetap menjadi beban bagi pertumbuhan pasar.











