Ekonomi

Rupiah Tembus Level Terendah, Ekonomi RI Lepas Kutukan 5 Persen

×

Rupiah Tembus Level Terendah, Ekonomi RI Lepas Kutukan 5 Persen

Share this article
Rupiah Tembus Level Terendah, Ekonomi RI Lepas Kutukan 5 Persen
Rupiah Tembus Level Terendah, Ekonomi RI Lepas Kutukan 5 Persen

GemaWarta – 08 Mei 2026 | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, yakni mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Ini menandakan bahwa ekonomi Indonesia telah lepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 ini adalah yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi triwulan I dalam lima tahun terakhir sempat terkontraksi pada 2021 sebesar minus 0,69 persen.

🔖 Baca juga:
OJK Lakukan Stress Test Besar-besaran, Pasar Keuangan Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Secara historis, pertumbuhan ekonomi triwulan I dalam lima tahun terakhir tercatat sebesar 5,03 persen pada 2022, meningkat menjadi 5,04 persen pada 2023, dan kembali naik ke 5,11 persen pada 2024, sebelum berada di level 4,87 persen pada 2025.

Namun, mata uang Rupiah Indonesia saat ini turun atas Dollar AS, di mana 1 dollar AS mencapai Rp 17.300 per kurs hari Kamis (7/5/2026). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti investor masih menganggap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dibangun dengan pondasi yang rapuh.

Ekonom dari institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, menyebut ada sejumlah faktor yang menyebabkan Rupiah menurun meski ekonomi Indonesia meningkat. Pertama, investor masih menganggap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dibangun dengan pondasi yang rapuh.

Kedua, kondisi di dalam negeri masih tidak menentu sehingga banyak investor yang mengonversi uang rupiahnya ke dolar. Hal ini membuat dorongan untuk capital inflow (uang masuk) itu cenderung kurang, bahkan ada capital outflow.

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hari ini, Jumat (8/5/2026). Pelemahan rupiah terjadi karena dolar AS rebound pasca insiden baku tembak antara kapal Amerika Serikat dan Iran.

Tren pelemahan rupiah ini selaras dengan mayoritas mata uang di Asia yang juga mengalami penurunan terhadap dolar AS. Suara.com – Pembukaan rupiah pada pagi, Jumat (8/5/2026) berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Rupiah tercatat turun 33 poin atau melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan Selasa yang berada di level Rp17.333. Kondisi serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).

Rupiah berada di level Rp17.362 per dolar AS. Pelemahan rupiah hari ini sejalan dengan tren merah yang melanda beberapa mayoritas mata uang di Asia.

🔖 Baca juga:
IHSG Anjlok 6,61% dalam Seminggu, Investor Asing Kabur Besar, Kapitalisasi Pasar Turun 6,59%

Salah satunya adalah Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,56 persen, disusul rupiah yang melemah 0,21 persen, ringgit Malaysia melemah 0,17 persen, peso Filipina melemah 0,11 persen, yuan China melemah 0,04 persen dan yen Jepang melemah 0,006 persen terhadap dolar AS.

Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Baht Thailand menguat 0,04 persen, dolar Hong Kong menguat 0,04 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen dan dolar Taiwan yang menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.

Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemah rupiah dipicu oleh dolar AS yang rebound. Lantaran, adanya insiden baku tembak antara kapal Amerika Serikat dan Iran.

Rupiah akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terhadap dolar AS yang rebound menyusul insiden saling baku tembak antara kapal AS dan Iran. Walau demikian perlemahan diperkirakan terbatas,

Menurut data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield acuan SBN telah ambles ke level 6,84% pada perdagangan hari ini, Kamis (7/5/2026). Posisi tersebut mencerminkan pelemahan 11,94% sepanjang tahun berjalan 2026 (year-to-date/YtD) dari level 6,11% pada awal tahun.

Sejalan dengan lesunya yield SBN yang mencerminkan semakin amblesnya harga Surat Berharga Negara (SBN), investor asing juga berbondong-bondong melepas kepemilikan mereka. Aksi net sell asing di pasar SBN tercatat senilai Rp12,12 triliun YtD ke level Rp867,81 triliun.

Diperinci, kepemilikan asing atas Surat Utang Negara (SUN) menjadi yang terbanyak dilego, dengan nilai mencapai Rp11,62 triliun YtD. Sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk hanya tercatat mengalami net sell senilai Rp490 miliar.

Kian menyusutnya kepemilikan asing sebetulnya baru betul-betul terasa pada Maret 2026. Pasalnya, pada Februari 2026, pasar modal Tanah Air menghadapi berbagai tekanan. Di pasar saham, MSCI Inc. membekukan rebalancing saham RI dan tidak berselang lama, lembaga pemeringkat kredit Moody’s menurunkan outlook kredit RI menjadi negatif.

🔖 Baca juga:
Rupiah Tembus Rp 17.300 per Dolar AS: Dampak Konflik Global dan Lonjakan Harga Energi Membuat Nilai Tukar Tertekan

Alhasil, sebanyak Rp3,81 triliun dana asing meninggalkan pasar SBN saat memasuki Maret 2026. Namun, tekanan belum berakhir karena pada April 2026, Fitch Ratings sebagai salah satu lembaga pemeringkat ternama global, turut menurunkan outlook kredit RI menjadi negatif.

Alhasil, kian deras dana asing yang mengalir keluar RI, dengan April 2026 tercatat tersisa senilai Rp856,14 triliun atau menguap Rp23,79 triliun pada periode Januari–April 2026.

Di pasar saham, investor asing cenderung keluar dengan net sell Rp49,03 triliun secara YtD per Kamis (7/5/2026). IHSG berada di posisi 7.174,32, menyusut 17,03% YtD.

Menguapnya dana asing memiliki korelasi dengan kian lesunya nilai tukar rupiah. Sepanjang periode Januari–Februari 2026, dana asing yang menguap di pasar SBN tercatat senilai Rp510 miliar dan hanya menekan rupiah 0,76% ke level Rp16.802 per dolar AS pada akhir Februari 2026.

Namun, penurunan outlook kredit oleh dua lembaga pemeringkat ternama global pada periode Maret–April 2026, segera menekan rupiah lebih parah. Dengan kaburnya dana asing senilai Rp19,47 triliun pada periode Maret–April 2026, rupiah bahkan mengalami koreksi 2,69% ke level Rp17.317 per dolar AS pada akhir April.

Kesimpulan, rupiah melemah terhadap dolar AS pada 2026 disebabkan oleh beberapa faktor, seperti investor masih menganggap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dibangun dengan pondasi yang rapuh dan kondisi di dalam negeri masih tidak menentu. Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh lesunya yield SBN dan mengalirnya dana asing keluar dari pasar SBN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *