GemaWarta – 02 Mei 2026 | Film Resident Evil yang dijadwalkan tayang pada 18 September 2026 ini menjadi sorotan utama setelah trailer 4K resmi dirilis oleh Sony Pictures Entertainment pada akhir April. Sutradara Zach Cregger, yang dikenal lewat film horor “Barbarian” dan “Weapons”, kembali mengusung visi orisinal dengan mengangkat peristiwa paralel saat Raccoon City dilanda kekacauan. Alih‑alih menelusuri kisah Leon S. Kennedy atau Chris Redfield, Cregger memilih menampilkan karakter baru, Brian (diperankan oleh Austin Abrams), seorang pria biasa yang terjebak di sebuah rumah terpencil bersalju di pinggiran kota.
Keputusan untuk tidak mengulang cerita yang sudah familiar menimbulkan reaksi beragam. Sebagian kritikus awalnya menilai film ini menyimpang terlalu jauh dari pakem game klasik, bahkan menyebutnya terasa seperti “spinoff 28 Days Later”. Namun, sebagian penggemar menyambut baik kebebasan naratif tersebut, mengingat franchise Resident Evil telah terbukti beradaptasi dengan perubahan signifikan sejak era Resident Evil 4, yang menggeser fokus dari zombie ke aksi over‑the‑shoulder, hingga Resident Evil 7 yang memperkenalkan horor berbasis perspektif orang pertama.
Estetika Game Lawas Menyatu dengan Sinematografi Modern
Tim produksi sengaja meniru nuansa visual Resident Evil 2, mulai dari tekstur bangunan hingga hujan tak henti yang menetes di kota fiksi Raccoon City. Desainer produksi Tom Hammock menjelaskan bahwa setiap detail, termasuk warna dinding, pencahayaan, dan bahkan suara latar, diadaptasi agar penonton yang tidak familiar dengan game tetap merasakan atmosfer yang otentik. Di samping itu, film ini menyisipkan berbagai Easter Egg yang menjadi buah bibir komunitas, seperti green herb dalam sebuah pot yang persis meniru tampilan di Resident Evil 4, lengkap dengan ember berlapis tembaga horizontal.
- Green herb pada latar belakang kiri, meniru item penyembuhan ikonik.
- Rak senjata yang menampilkan progresi pistol, shotgun, hingga MP5, mencerminkan mekanik manajemen amunisi game.
- Lokasi kantor polisi RPD yang muncul dalam bayangan, meski tidak eksplisit.
- Item penyembuhan dari Resident Evil 4 tersembunyi di dalam laci.
Selain item, struktur naratif film juga terinspirasi oleh Resident Evil 4: perjalanan melintasi beberapa lokasi berbeda, mulai dari rumah terpencil, fasilitas laboratorium, hingga selokan kota yang menyerupai adegan di Resident Evil 3. Cregger menegaskan bahwa perubahan lokasi ini memberikan dinamika yang lebih hidup dibandingkan sekadar mengurung cerita pada satu mansion.
Kebebasan Karakter dan Pengembangan Cerita
Brian digambarkan sebagai “total hapless everyman” – sosok yang tidak terlatih, tidak berpengalaman dengan senjata, dan seringkali terpaksa mencari amunisi di laci yang berdebu. Pendekatan ini mencerminkan esensi gameplay Resident Evil, di mana pemain harus terus mencari sumber daya sambil mengelola ketakutan. Cregger menambahkan, “Apa yang penting bagi saya adalah menghormati manajemen sumber daya dan progresi senjata, bukan sekadar menampilkan monster ikonik seperti Nemesis atau Mr. X.”
Walau tidak ada karakter utama dari game, film ini tetap menyisipkan referensi visual yang dapat dikenali oleh pemain veteran. Misalnya, desain monster baru dibangun berdasarkan spekulasi ilmiah tentang mutasi T‑Virus, menghindari penampilan yang terlalu kartun namun tetap menakutkan. Salah satu makhluk menonjol, sebuah entitas berdaging berukuran satu ton yang dioperasikan oleh empat orang, menjadi bukti ambisi produksi dalam menciptakan horor yang terasa realistis.
Reaksi penonton setelah menonton trailer pertama mencerminkan dualitas persepsi: beberapa mengkritik kurangnya unsur Leon, sementara yang lain memuji keberanian Cregger untuk tidak mengulang cerita yang telah diceritakan. Secara keseluruhan, film ini berhasil menggabungkan elemen gameplay klasik – pencarian amunisi, penggunaan herb, dan manajemen inventaris – ke dalam bahasa sinematik yang dapat dinikmati penonton umum.
Dengan mengusung cerita mandiri, estetika retro, dan sejumlah Easter Egg yang menggiurkan, Resident Evil 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi adaptasi film video game di Indonesia. Jika film ini berhasil menarik baik penggemar lama maupun penonton baru, maka warisan franchise yang selalu berinovasi dapat terus berlanjut di era sinema modern.









