Kesehatan

Keracunan MBG di Demak: Lebih dari 100 Santri Dirawat, Penyebab Masih Ditelusuri

×

Keracunan MBG di Demak: Lebih dari 100 Santri Dirawat, Penyebab Masih Ditelusuri

Share this article
Keracunan MBG di Demak: Lebih dari 100 Santri Dirawat, Penyebab Masih Ditelusuri
Keracunan MBG di Demak: Lebih dari 100 Santri Dirawat, Penyebab Masih Ditelusuri

GemaWarta – 19 April 2026 | Serangkaian kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menggemparkan masyarakat setempat pada akhir pekan 18-19 April 2026. Lebih dari seratus santri dari beberapa pondok pesantren di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, melaporkan gejala mual, muntah, pusing, hingga sesak napas setelah mengonsumsi MBG yang disiapkan oleh Dinas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.

Menurut keterangan kepala Puskesmas Kebonagung, Arief Setiawan, hingga siang Minggu 19 April, lima santri sudah mendapatkan perawatan rawat jalan dan dinyatakan stabil sehingga boleh pulang. Namun, sejumlah besar korban lainnya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, termasuk RSU PKU Muhammadiyah Gubug, Rumah Sakit Getas Pendowo, dan Rumah Sakit Sultan Fatah Karangawen.

🔖 Baca juga:
Steven Wongso Disentil Balik: Edukasi Gula Martabak vs. Bahaya Steroid Anabolik

Data yang dihimpun dari Puskesmas Kebonagung menunjukkan:

  • Jumlah total korban: 97 orang (67 rawat jalan, 30 dirujuk ke rumah sakit).
  • Santri yang dirujuk: 24 orang pada hari pertama, bertambah menjadi 35 orang pada malam hari.
  • Pondok yang paling terdampak: Pondok Pesantren Asnawiyyah (97 santri), Pondok Bustanul Quran (68 santri), dan MTs Yasua (310 porsi MBG).

Koordinator wilayah SPPG Demak, Ali Muzani, mengonfirmasi bahwa pada hari Sabtu, 18 April, sebanyak 550 porsi MBG didistribusikan ke empat institusi pendidikan, sementara total porsi yang diproduksi mencapai 1.484. Dari total penerima manfaat, 110 orang menunjukkan gejala keracunan dan 95 orang harus dirawat inap.

Pengasuh Pondok Pesantren Asnawiyyah, Cholilullah, menyebutkan bahwa gejala pertama muncul pada malam Sabtu, ketika beberapa santri mulai muntah, mengalami pusing, dan ada yang sesak napas. “Satu santri kami harus dilarikan ke RS Getas Pendowo pada malam itu karena sesak dan mual yang berat,” ujar ia.

Pihak pondok kemudian menjadi posko pelaporan korban, mengumpulkan sampel makanan yang diduga menjadi sumber kontaminasi. Menurut Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Daerah (Dinkes) Demak, Darto Wahab, sampel yang diambil meliputi muntahan nasi goreng dan sisa susu kotak yang disajikan bersama menu utama.

🔖 Baca juga:
Bayi Nyaris Hilang di RSHS Bandung: Kecurigaan Transfer Uang, Penangguhan Perawat, dan Tanggapan Kementerian

Seluruh pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan Demak, telah melakukan koordinasi untuk melakukan analisis laboratorium terhadap sampel makanan tersebut. Hingga saat ini, hasil uji laboratorium belum tersedia, sehingga penyebab pasti keracunan masih menjadi misteri.

Berbagai dugaan penyebab mulai beredar, mulai dari kontaminasi bakteri, penggunaan bahan kimia berbahaya, hingga kesalahan dalam proses penyimpanan. Namun, otoritas kesehatan menekankan pentingnya menunggu hasil uji laboratorium sebelum menarik kesimpulan akhir.

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan masyarakat luas, mengingat program MBG merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah dan santri. Menurut data Dinas Pendidikan, program MBG telah berjalan sejak 2020 dan mencakup ribuan anak di seluruh provinsi.

Untuk menanggulangi situasi, Dinas Kesehatan Demak telah mengirimkan tim surveilans ke lokasi distribusi makanan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan terhadap semua santri yang pernah mengonsumsi MBG pada hari tersebut. Selain itu, pihak rumah sakit telah menyiapkan ruang perawatan khusus untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus.

🔖 Baca juga:
Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat

Para ahli gizi menekankan pentingnya kontrol kualitas yang ketat dalam proses penyajian MBG, termasuk prosedur kebersihan, suhu penyimpanan, serta penggunaan bahan baku yang telah terjamin keamanannya. Mereka juga mengimbau kepada lembaga pengelola program untuk meningkatkan pelatihan staf dapur dan melakukan audit rutin.

Secara keseluruhan, kasus keracunan MBG di Demak menggambarkan tantangan besar dalam pelaksanaan program pangan berskala luas. Pemerintah daerah berjanji akan meningkatkan pengawasan, mempercepat proses investigasi, dan memberikan penanganan medis yang optimal bagi semua korban.

Dengan masih menantikan hasil laboratorium, masyarakat diminta untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas kesehatan. Upaya bersama antara pihak kesehatan, pendidikan, dan komunitas diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *