GemaWarta – 06 Mei 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi terjadinya wabah hantavirus di kapal pesiar mewah MV Hondius yang kini terdampar di lepas pantai Cabo Verde, Afrika Barat. Insiden ini menewaskan tiga penumpang dan menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan penularan antarmanusia, sebuah dugaan yang belum pernah terbukti secara luas sebelumnya.
Menurut laporan resmi WHO, enam orang di kapal tersebut terinfeksi, dengan tiga di antaranya meninggal dunia. Satu pasien masih berada di ruang perawatan intensif di Afrika Selatan, sementara dua lainnya dievakuasi untuk perawatan medis. WHO telah memfasilitasi evakuasi medis dan melakukan penilaian risiko penuh terhadap seluruh penumpang dan awak kapal.
Hantavirus biasanya menyebar melalui kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Namun, penyelidikan awal mengindikasikan bahwa tikus mungkin telah masuk ke ruang kargo kapal, atau penularan dapat terjadi selama aktivitas di darat sebelum keberangkatan. Vinod Balasubramaniam, pakar virologi molekuler, menekankan bahwa penularan langsung antar manusia masih sangat jarang.
Berikut kronologi singkat kasus yang telah terkonfirmasi dan yang masih diduga:
- Kasus 1: Pria dewasa mengalami demam, sakit kepala, dan diare pada 6 April 2026. Kondisinya memburuk menjadi kesulitan bernapas dan meninggal pada 11 April di atas kapal.
- Kasus 2: Wanita dewasa, kontak dekat kasus 1, turun di Saint Helena pada 24 April dengan gejala gangguan pencernaan. Memburuk selama penerbangan ke Johannesburg dan meninggal pada 26 April. Konfirmasi PCR pada 4 Mei.
- Kasus 3: Pria dewasa mengunjungi dokter kapal pada 24 April dengan demam, sesak napas, dan pneumonia. Dievakuasi ke Afrika Selatan pada 27 April dan konfirmasi PCR pada 2 Mei.
Selain tiga kasus fatal, lima penumpang masih berada dalam status suspek dan sedang dipantau ketat. WHO mencatat bahwa masa inkubasi hantavirus dapat mencapai delapan minggu, sehingga pelacakan sumber menjadi tantangan signifikan.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan komitmen organisasi dalam menyediakan dukungan medis dan logistik. “Kami memfasilitasi evakuasi medis bagi penumpang yang bergejala, melakukan penilaian risiko, dan mendukung semua yang terdampak di atas kapal,” ujar Dr. Tedros.
Dr. Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi WHO, menambahkan bahwa beberapa kasus menunjukkan kontak sangat dekat antar penumpang, sehingga tidak dapat dikesampingkan adanya penularan antarmanusia. “Kita tidak dapat menutup kemungkinan penularan manusia ke manusia dalam situasi ini,” katanya.
Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan, termasuk sequencing genetik virus untuk memahami varian yang terlibat. Oceanwide Expeditions, operator kapal, bekerja sama dengan otoritas Belanda untuk memulai repatriasi penumpang yang masih sehat.
Hantavirus memiliki dua bentuk klinis utama: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai 38 persen, dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal. Hingga kini belum dipastikan bentuk mana yang menginfeksi penumpang MV Hondius.
Kasus ini menyoroti pentingnya protokol kebersihan dan kontrol hama pada kapal laut, serta kebutuhan akan kesiapsiagaan medis internasional dalam menanggapi penyakit zoonotik yang jarang terjadi. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap gejala demam, nyeri otot, dan gangguan pernapasan setelah kontak dengan lingkungan potensial terkontaminasi.
Dengan hampir 150 orang masih berada di kapal, otoritas setempat terus memantau situasi sambil memberikan perawatan intensif bagi yang membutuhkan. WHO akan melanjutkan investigasi epidemiologi untuk memastikan apakah penularan antarmanusia terjadi, serta mengeluarkan pedoman pencegahan bagi pelayaran internasional di masa depan.











