GemaWarta – 23 April 2026 | Industri otomotif Tanah Air kini berada pada titik kritis dimana kendaraan listrik bertransformasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi hijau. Dorongan kebijakan fiskal, aliran investasi asing, serta perubahan preferensi konsumen menandai pergeseran struktural yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, jumlah mobil listrik yang beredar pada akhir 2025 baru mencapai sekitar 104.000 unit. Angka ini masih jauh di bawah target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang menargetkan 944.000 unit pada 2030, meninggalkan kesenjangan lebih dari 840.000 unit. Andry menegaskan bahwa untuk menutup gap tersebut diperlukan penambahan rata‑rata 136.000 unit per tahun, sekaligus meningkatkan proporsi kendaraan buatan dalam negeri yang masih didominasi produk impor. Ia juga menyoroti komitmen pemerintah yang telah menggalang investasi senilai USD 2,73 miliar untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat narasi ini dengan data terbaru hingga Maret 2026. Sebanyak 91 perusahaan kendaraan listrik telah menancapkan total investasi sebesar Rp25,674 triliun, menghasilkan populasi 358.205 unit kendaraan listrik, termasuk 236.451 motor listrik dan 119.638 mobil penumpang. Kapasitas produksi tahunan mencakup 14 pabrik perakitan mobil (409.860 unit), 68 pabrik motor listrik (2,51 juta unit), dan 9 pabrik bus listrik. Pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sektor ini melampaui 140 persen dalam lima tahun terakhir. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Setia Diarta, menekankan pentingnya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi 40 persen hingga 2026 dan 80 persen pada 2030 untuk memperkokoh rantai pasok baterai domestik.
Gaikindo juga mencatat pergeseran pasar yang signifikan. Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, menyampaikan bahwa penjualan kendaraan bermesin konvensional (ICE) terus menurun, sementara penjualan kendaraan listrik (BEV) telah mencapai porsi 15,9 persen pada Maret 2026, melampaui hybrid yang berada di 8,1 persen. “Pertanyaannya kini bukan lagi apakah disrupsi BEV berlanjut, melainkan apakah ICE akan terintegrasi ke dalam elektrifikasi,” ujarnya.
| Parameter | 2025 | 2030 Target |
|---|---|---|
| Unit Mobil Listrik | 104.000 | 944.000 |
| Investasi (USD) | 2,73 miliar | — |
| Investasi (Rp) | — | 25,674 triliun |
| TKDN KBLBB | 40 % | 80 % |
Meski momentum positif terus menguat, tantangan tetap besar. Kesenjangan antara realisasi dan target adopsi menuntut kebijakan yang lebih agresif, terutama dalam mempermudah regulasi impor komponen dan meningkatkan kapasitas produksi baterai dalam negeri. Jika pemerintah dapat mengoptimalkan insentif fiskal, mempercepat standar TKDN, serta menarik lebih banyak investasi, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi kendaraan listrik regional yang kompetitif.
Kesimpulannya, kendaraan listrik tidak hanya menjadi tren semata, melainkan menjadi motor baru yang menggerakkan transformasi industri otomotif Indonesia. Dengan dukungan investasi triliunan rupiah, kebijakan yang konsisten, dan komitmen semua pemangku kepentingan, target ambisius 944.000 unit pada 2030 dapat tercapai, menempatkan negara ini pada peta global kendaraan listrik.











