GemaWarta – 23 April 2026 | Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia sebagai ajang untuk menyoroti pentingnya literasi, karya tulis, dan perlindungan hak cipta. Perayaan ini memiliki jejak sejarah yang panjang, dimulai dari tradisi lokal di Catalonia, Spanyol, hingga diakui secara global oleh UNESCO pada tahun 1995.
Awal mula gagasan hari khusus untuk buku muncul pada awal 1920-an ketika pelaku industri buku di Catalonia mengusulkan tanggal peringatan nasional. Pada 1926, Raja Alfonso XIII menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Buku, bertepatan dengan perkiraan tanggal kelahiran Miguel de Cervantes. Pada tahun 1930, tanggal tersebut dipindahkan ke 23 April, hari wafat Cervantes, sekaligus bertepatan dengan tanggal wafat William Shakespeare pada kalender Julian. Meskipun keduanya tidak meninggal pada hari yang sama karena perbedaan sistem kalender, kebetulan tersebut memberikan simbolisme kuat bagi UNESCO.
UNESCO secara resmi menetapkan 23 April sebagai World Book and Copyright Day pada 15 November 1995, berlandaskan usulan Serikat Penerbit Buku Catalonia. Penetapan ini menekankan peran buku sebagai jembatan antarbudaya dan sarana pertukaran pengetahuan. Sejak 1996, peringatan tersebut dirayakan di lebih dari 150 negara, menggalakkan program membaca, menumbuhkan budaya menulis, serta melindungi kekayaan intelektual.
Di Indonesia, peringatan serupa dikenal dengan Hari Buku Nasional yang diperingati pada 17 Mei. Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2002, hari tersebut menjadi platform untuk meningkatkan tingkat melek huruf, yang pada saat itu masih di bawah 90 persen. Pemerintah dan lembaga seperti Perpustakaan Lembaga Ketahanan Nasional terus menggelar lomba membaca, pameran buku, dan kampanye literasi untuk menurunkan angka buta huruf.
Penulis asal Jawa Timur turut menjadi sorotan dalam rangkaian kegiatan Hari Buku Sedunia. Berikut beberapa nama yang dikenal secara nasional:
- Zawawi Imron
- Akhudiat
- Khilma Anis
- Makinuddin Samin
Keempat penulis ini menghasilkan karya fiksi, esai, dan puisi yang menggambarkan keberagaman budaya Jawa Timur, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk menulis.
UNESCO juga memperkenalkan program World Book Capital, di mana satu kota tiap tahun diberi gelar untuk memimpin inisiatif literasi. Pada 2026, kota Rabat, Maroko terpilih sebagai World Book Capital. Fokus utama Rabat meliputi penguatan infrastruktur literasi digital, penyediaan buku dalam format aksesibel bagi penyandang disabilitas, dan pemberdayaan perempuan serta pemuda melalui program membaca komunitas.
Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak organisasi menawarkan cara membaca yang lebih efektif. Beberapa teknik yang populer pada momentum Hari Buku Sedunia meliputi:
- Menetapkan target waktu membaca per sesi.
- Melakukan pratinjau isi buku melalui daftar isi dan pengantar.
- Menggunakan timer untuk melatih kecepatan membaca.
- Menjaga jarak baca ideal sekitar 30 cm.
- Menandai bagian penting dengan stabilo untuk memudahkan rangkuman.
Strategi tersebut tidak hanya mempercepat proses membaca, tetapi juga meningkatkan retensi informasi. Hal ini sejalan dengan tujuan Hari Buku Sedunia untuk menjadikan buku tetap relevan di era digital.
Kesimpulannya, Hari Buku Sedunia bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan gerakan global yang menegaskan peran esensial buku dalam pendidikan, budaya, dan pembangunan. Dari akar tradisi Catalonia hingga penetapan UNESCO, peringatan ini mengajak semua pihak—pemerintah, penerbit, penulis, serta pembaca—untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang literat, inklusif, dan berdaya saing.









