Pendidikan

Seleksi Nasional Berdasarkan Tes: Antara Kecurangan dan Integritas

×

Seleksi Nasional Berdasarkan Tes: Antara Kecurangan dan Integritas

Share this article
Seleksi Nasional Berdasarkan Tes: Antara Kecurangan dan Integritas
Seleksi Nasional Berdasarkan Tes: Antara Kecurangan dan Integritas

GemaWarta – 26 Juni 2026 | Seleksi nasional berdasarkan tes merupakan salah satu cara untuk memilih calon mahasiswa yang berpotensi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, seleksi ini telah menjadi sorotan karena adanya kecurangan dan manipulasi.

Universitas Negeri Medan (Unimed) merupakan salah satu perguruan tinggi yang membuka pendaftaran mahasiswa baru melalui Jalur Seleksi Mandiri Tahun 2026. Unimed menyediakan kuota sebanyak 3.099 kursi yang tersebar pada 59 program studi jenjang Sarjana (S1), Diploma IV (D-IV), dan Diploma III (D-III). Rektor Unimed, Prof Dr Baharuddin, ST, MPd, mengatakan bahwa seleksi jalur mandiri dilaksanakan dengan prinsip transparan dan berkeadilan.

🔖 Baca juga:
Membangun Masa Depan Anak: Tips dan Strategi untuk Orangtua

Namun, tidak semua perguruan tinggi memiliki integritas yang sama. Universitas Nusa Cendana (Undana) menemukan sejumlah pelanggaran serius dalam proses Seleksi Mandiri Masuk Universitas Nusa Cendana (SMMU) Tahun 2026, mulai dari manipulasi nilai rapor hingga indikasi penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada jawaban peserta.

Ketua Kelompok Kerja Data Akademik Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAK) Undana, Hendro Soepranoto, S.Kom., M.Si., mengungkapkan bahwa tim seleksi menemukan sejumlah peserta yang mengisi data nilai tidak sesuai rapor asli. Bahkan, ada indikasi sengaja menaikkan nilai. Tim langsung mengambil tindakan tegas dengan melakukan koreksi berdasarkan dokumen resmi yang valid.

🔖 Baca juga:
Universitas Airlangga Jadi Sorotan: Dari Demo Masyarakat Hingga Wisuda Bertiga Keluarga Ashanty

Selain manipulasi nilai, komponen esai deskripsi diri juga menjadi perhatian serius tim penilai. Undana mendeteksi sekitar 70 persen jawaban peserta memiliki kemiripan tinggi yang mengindikasikan penggunaan AI dalam penyusunan jawaban. Meski kampus tidak melarang penggunaan teknologi AI, sistem penilaian memberikan bobot lebih tinggi pada jawaban yang jujur, reflektif, dan berbasis pengalaman nyata peserta.

Kemendikti dan panitia SNPMB juga membantah kabar yang menyebutkan sekitar 60 ribu calon mahasiswa jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tidak melakukan daftar ulang. Kemdiktisaintek memastikan informasi tersebut tidak tepat. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, menyatakan bahwa data itu tidak hanya berasal dari peserta SNBP, tapi gabungan dari seluruh jalur penerimaan mahasiswa baru.

🔖 Baca juga:
Mahasiswa UI Geruduk Kementerian Pendidikan: Persiapan Massa & Tuntutan Reformasi Besar

Para peserta yang sudah lolos SNBP tapi memilih tidak mendaftar ulang karena jurusan yang lolos tidak sesuai minatnya. Sehingga Eduart menemukan mereka memilih menempuh jalur seleksi atau kampus lain. Itu alasan paling banyak karena tidak sesuai minat.

Dalam kesimpulan, seleksi nasional berdasarkan tes harus dilaksanakan dengan prinsip transparan dan berkeadilan. Perguruan tinggi harus memiliki integritas yang tinggi dalam proses seleksi untuk memilih calon mahasiswa yang berpotensi. Kecurangan dan manipulasi harus dihindari agar seleksi dapat berjalan dengan adil dan transparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *