GemaWarta – 23 April 2026 | Universitas Negeri Malang (UM) kembali menjadi sorotan publik setelah terkuaknya dugaan praktik joki UTBK pada gelombang pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Pada hari pertama pelaksanaan, sekitar 2.600 peserta mengisi ruang ujian, namun tim seleksi segera menemukan anomali data yang memicu penyelidikan intensif.
Dr. Rizky Firmansyah, Kepala Subdirektorat Seleksi UM, menjelaskan bahwa modus yang terdeteksi melibatkan pertukaran identitas peserta. “Data yang dibawa peserta secara fisik tampak identik dengan dokumen resmi seperti KTP, SIM, atau kartu pelajar, namun setelah sesi selesai muncul ketidaksesuaian pada sistem pusat,” ungkapnya kepada wartawan.
Segera setelah kecurigaan muncul, panitia melakukan penelusuran digital dan fisik. Tim investigasi memeriksa rekaman CCTV, foto-foto yang diambil pengawas, serta mencocokkan data peserta dengan database kampus. Proses tersebut mengungkap bahwa beberapa peserta menggunakan identitas yang telah dimodifikasi, sehingga memungkinkan joki masuk ke ruang ujian tanpa terdeteksi.
Direktur Pendidikan UM, Evi Eliyanah, menambahkan bahwa meskipun protokol keamanan fisik seperti metal detector dan pemeriksaan pakaian telah diterapkan, celah masih terjadi pada proses verifikasi identitas di dalam ruang ujian. “Pengawas tidak memiliki waktu untuk memeriksa secara detail setiap peserta dalam rentang 30 menit, terutama bila terdapat lebih dari 20 orang di satu ruangan,” kata Evi.
Berikut rangkaian langkah investigasi yang telah dilakukan:
- Verifikasi data peserta dengan basis data kampus.
- Pemeriksaan rekaman CCTV dari seluruh ruang ujian.
- Pengambilan foto wajah peserta oleh pengawas untuk perbandingan visual.
- Wawancara dengan pengawas dan teknisi ruang ujian.
- Penyusunan daftar nama yang diduga terlibat untuk proses tindak lanjut.
Hasil awal menunjukkan bahwa pelaku utama berhasil menyusup ke ruang ujian Fakultas Kedokteran Gigi, program studi dengan tingkat persaingan tinggi. Identitas palsu yang dipakai berupa kartu peserta yang telah dimodifikasi, sehingga sistem otentikasi di tingkat pusat baru dapat mengidentifikasi ketidaksesuaian setelah ujian dimulai.
Panitia UTBK nasional (SNPMB) telah merancang sistem seleksi tahun ini dengan penempatan peserta secara serentak, guna meminimalkan ruang gerak pelaku kecurangan. Namun, kasus ini menyoroti tantangan baru dalam mengamankan proses ujian berbasis komputer, khususnya terkait verifikasi identitas digital.
Pihak Universitas Negeri Malang menegaskan komitmen penuh untuk menjaga integritas UTBK. “Kami akan mengungkap semua temuan setelah data terverifikasi secara final, dan menindak tegas siapa pun yang terbukti melakukan kecurangan,” tegas Rizky. UM berharap langkah tegas ini dapat memberikan efek jera dan mencegah praktik serupa di masa mendatang.
Kasus joki UTBK ini juga memicu perbincangan luas di kalangan akademisi dan calon mahasiswa mengenai pentingnya etika dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. Semua pihak diingatkan untuk mengutamakan kejujuran, mengingat dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan dan kredibilitas institusi.
Investigasi masih berjalan, dan universitas berkoordinasi dengan otoritas pendidikan nasional untuk menindaklanjuti temuan. Ke depannya, UM berencana memperkuat mekanisme verifikasi, termasuk pemanfaatan teknologi pengenalan wajah dan sistem keamanan berbasis AI, demi mencegah terulangnya kasus joki UTBK.











