Religi

Mengenal Hari Tasyrik: Sejarah, Amalan, dan Hikmahnya

×

Mengenal Hari Tasyrik: Sejarah, Amalan, dan Hikmahnya

Share this article
Mengenal Hari Tasyrik: Sejarah, Amalan, dan Hikmahnya
Mengenal Hari Tasyrik: Sejarah, Amalan, dan Hikmahnya

GemaWarta – 25 Mei 2026 | Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Iduladha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari ini, umat Islam dilarang berpuasa dan dianjurkan untuk berpesta makan dan minum sebagai bentuk syukur.

Kata "Tasyrik" atau "Tasyriq" berasal dari bahasa Arab "syarraqa" yang berkaitan dengan aktivitas menjemur atau mengeringkan daging di bawah sinar matahari. Dahulu, sebelum ada teknologi pendingin seperti kulkas, umat Islam menyimpan daging kurban yang melimpah dengan cara dijemur di bawah terik matahari hingga menjadi dendeng.

🔖 Baca juga:
Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad: Pilihan Ibadah Haji yang Sahih

Mayoritas ulama menyepakati bahwa hukum berpuasa pada hari Tasyrik adalah haram. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa hari-hari tersebut adalah waktu bagi umat Islam untuk menikmati hidangan. "Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum." (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini merupakan dalil kuat yang melarang puasa pada hari Tasyrik, baik itu puasa sunnah (seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh) maupun puasa wajib.

Bagi jemaah haji, Hari Tasyrik menjadi bagian dari rangkaian ibadah di Mina. Pada periode ini, jemaah melaksanakan lontar jumrah sebagai salah satu ritual wajib haji setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.

Umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir dan makan minum sebagai bentuk syukur. Pada hari-hari Tasyrik, umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban bagi yang belum melaksanakannya pada 10 Zulhijjah.

🔖 Baca juga:
Mengenal Adzan Surabaya dan Hukum Berhubungan Suami Istri di Malam Idul Adha

Perayaan Idul Adha tidak hanya berhenti di tanggal 10 Dzulhijjah saja. Dalam Islam, terdapat tiga hari istimewa setelah Idul Adha yang disebut sebagai Hari Tasyrik. Pada hari-hari ini, umat Muslim dilarang berpuasa dan justru dianjurkan untuk berpesta makan dan minum sebagai bentuk syukur.

Lantas, apa sebenarnya makna Hari Tasyrik dan amalan apa saja yang bisa dilakukan? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Dilansir dari laman MUI, Hari Tasyrik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Hari-hari ini merupakan kelanjutan dari kemeriahan Idul Adha.

Bagi jamaah yang tengah menunaikan ibadah haji, Hari Tasyrik adalah waktu di mana mereka berada di Mina untuk melakukan prosesi lempar jumrah. Bagi umat Muslim secara umum, Hari Tasyrik adalah momen penuh kenikmatan.

🔖 Baca juga:
Jakarta Islamic Index: Masjid Al Ikhlas Sebar Daging Kurban ke 2.000 Orang

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak zikir dan menikmati hidangan, sehingga hukum berpuasa pada hari ini adalah haram.

Kesimpulan, Hari Tasyrik adalah hari yang istimewa bagi umat Islam, di mana mereka dilarang berpuasa dan dianjurkan untuk berpesta makan dan minum sebagai bentuk syukur. Umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir dan makan minum sebagai bentuk syukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *