GemaWarta – 30 April 2026 | Martín Zubimendi kembali menjadi sorotan utama menjelang laga semifinal Champions League antara Arsenal dan Atlético Madrid. Pemain asal San Sebastián ini menandai perjalanan yang penuh liku sejak kepindahannya ke Liga Premier pada musim panas lalu, ketika Arsenal mengeluarkan dana sebesar 70 juta pound untuk mengamankannya dari Real Sociedad. Sebelum bergabung dengan Gunners, Zubimendi telah menorehkan prestasi mengesankan bersama tim asalnya, namun adaptasinya di Inggris tak selalu mulus.
Debut Zubimendi di Premier League memang mengundang pujian. Dalam pertandingan pembukaan melawan Nottingham Forest, ia mencetak dua gol yang menegaskan kemampuan menyerang dari posisi gelandang. Total enam gol dalam musim pertamanya menambah nilai jualnya sebagai pemain serba bisa. Namun, seiring berjalannya waktu, performa Zubimendi mulai menurun. Kritik keras muncul, termasuk dari mantan pemain Manchester United, Gary Neville, yang menilai Zubimendi belum mampu mengendalikan permainan dengan otoritas seperti Andrea Pirlo atau Paul Scholes.
Penurunan performa tersebut tampak jelas pada laga-laga penting. Pada pertemuan melawan Bournemouth, Zubimendi terlibat dalam kebobolan yang memicu 1-2 bagi Arsenal, menimbulkan pertanyaan tentang peranannya di lini tengah. Sementara itu, di panggung internasional, ia tetap menjadi andalan Luis de la Fuente, namun persaingan dengan Rodri dari Real Madrid membuat posisinya di tim nasional tidak selalu terjamin.
Meski begitu, pelatih Arsenal, Mikel Arteta, masih menaruh kepercayaan tinggi pada Zubimendi. Statistik menunjukkan Zubimendi adalah pemain dengan menit bermain terbanyak kedua setelah David Raya. Ia telah tampil dalam semua laga liga dan sebagian besar pertandingan Liga Champions, kecuali dua laga yang terlewat karena sanksi dan istirahat. Arteta menilai gelandang vasco ini sebagai “otak” yang membantu mengatur ritme permainan, meski terkadang terlihat lelah dalam pertandingan-pertandingan akhir pekan yang padat.
Laga semifinal melawan Atlético Madrid menjadi kesempatan emas bagi Zubimendi untuk membuktikan nilai dirinya. Tim Spanyol, yang dipimpin oleh Diego Simeone, dikenal dengan tekanan tinggi dan pertahanan disiplin. Jika Zubimendi dapat mengeksekusi peran ganda—baik sebagai penyerang mendukung serangan maupun sebagai penahan lini tengah—maka Arsenal berpeluang menembus final. Sebelumnya, Zubimendi tampil menonjol pada perempat final melawan Sporting Portugal, dinobatkan sebagai pemain terbaik pada leg kedua, dan dipuji oleh pengamat UEFA, Fatih Terim, yang menyoroti visi dan kemampuan membaca permainan Zubimendi.
Di sisi lain, Atlético Madrid juga menyiapkan strategi khusus untuk menetralkan peran Zubimendi. Simeone kerap menekankan pentingnya menutup ruang bagi gelandang lawan, dan akan menugaskan pemainnya seperti Koke atau Marcos Llorente untuk melakukan marking ketat. Jika Zubimendi dapat menemukan celah melalui pergerakan tanpa bola dan mengoptimalkan umpan-umpan pendek, Arsenal dapat memanfaatkan kelemahan pertahanan Atlético yang kadang terkunci pada transisi cepat.
Selain faktor taktik, kondisi fisik Zubimendi menjadi sorotan. Selama dua bulan terakhir, ia mengalami beberapa keluhan minor pada otot paha, yang membuatnya absen dalam dua laga liga. Tim medis Arsenal mengonfirmasi bahwa ia berada dalam proses pemulihan dan diperkirakan siap untuk pertandingan penting ini. Jika Zubimendi tampil fit, ia dapat memberikan kontribusi signifikan dalam fase serangan, terutama dalam menghubungkan lini pertahanan dengan penyerang utama Arsenal seperti Gabriel Martinelli dan Bukayo Saka.
Secara keseluruhan, performa Zubimendi di semifinal ini tidak hanya berpengaruh pada hasil Arsenal melawan Atlético, namun juga pada persepsi publik terhadap investasi besar yang dikeluarkan klub Inggris. Keberhasilan Zubimendi dalam mengembalikan konsistensi dapat menjadi titik balik kariernya di Premier League, sekaligus memperkuat posisinya di timnas Spanyol menjelang Piala Dunia 2026.
Jika Arsenal berhasil mengatasi tekanan Atlético dan melaju ke final, Zubimendi dapat mencatatkan namanya di antara gelandang-gelandang Spanyol yang sukses di kancah Eropa, mengikuti jejak Sergio Busquets dan Thiago Alcântara. Sebaliknya, kegagalan di semifinal dapat memperkuat kritik yang telah lama mengiringi perjalanan kariernya di Inggris.









