GemaWarta – 28 Juni 2026 | Gempa bumi kuat dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026), menyebabkan ratusan bangunan runtuh dan memicu status darurat nasional. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, melaporkan sedikitnya 32 orang meninggal dunia dan sekitar 700 lainnya mengalami luka-luka.
Sebuah kisah pilu datang dari Venezuela, di mana seorang ibu bernama Andrea meninggal dunia setelah berusaha menyelamatkan putrinya yang masih balita saat bangunan tempat mereka berada runtuh akibat gempa bumi. Suami Andrea, pesepakbola Venezuela Héctor Bello, mengenang Andrea sebagai sosok pemberani yang mengorbankan nyawa demi menyelamatkan anak mereka.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela berpotensi mencapai 100.000 orang. Estimasi tersebut didasarkan pada tingkat kerentanan bangunan di wilayah terdampak terhadap guncangan gempa bumi.
Gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 menghancurkan wilayah utara Caracas dan memaksa pemerintah menetapkan status darurat nasional. Ratusan bangunan residensial dilaporkan roboh seketika akibat bencana mematikan yang terjadi dalam interval waktu sangat singkat ini.
Seorang jurnalis lepas bernama Tony Frangie Mawad terjebak di dalam lift saat gempa pertama mulai menghentak bangunannya. Ia menceritakan momen mendebarkan tersebut ketika lift yang dinaikinya mendadak hilang kendali menuju lantai dasar.
Sementara itu, gempa bumi dengan magnitudo 7,2 juga mengguncang wilayah lepas pantai utara Jepang pada hari Kamis (25/6), tetapi tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar yang dilaporkan.
Kesimpulan dari peristiwa gempa bumi di Venezuela dan Jepang adalah bahwa gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa, sehingga penting untuk selalu siap dan waspada terhadap bencana alam ini.











