GemaWarta – 23 Mei 2026 | Gempa bumi dengan magnitudo 5,7 mengguncang Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada Jumat, 22 Mei 2026. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,07° lintang utara, 126,18° bujur timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 124 km arah timur, Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 26 km.
Gempa tersebut turut dirasakan di beberapa wilayah, di antaranya di Kota Manado dan Minahasa Utara. "Gempa Manado terasa sekali, cukup kuat," kata Fajri, salah seorang warga Manado. "Di Minut juga terasa sekali," ujar Yoseph, warga Minahasa Utara.
Beberapa warga Manado yang ditemui juga mengaku turut merasakan gempa. Sejauh ini belum ada laporan terkait kerusakan akibat dari gempa bumi tersebut. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Manado Tony Agus Wijaya saat dihubungi terkait gempa bumi tersebut belum memberikan tanggapan.
Gempa bumi juga terjadi di wilayah lain, seperti di Kabupaten Jayapura, dengan kekuatan magnitudo 3,7. Pusat gempa bumi berada di laut sekitar 31 kilometer timur laut Kabupaten Jayapura. Gempa terjadi pada koordinat pada 2,32° lintang selatan dan 140,50° bujur timur.
Di sisi lain, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga dilangsungkan. Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) Indonesia menerima penghargaan atas dukungannya terhadap program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dalam rangkaian peringatan tersebut.
Penghargaan diberikan dalam kegiatan di SMAN 1 Kalasan, Kabupaten Sleman, yang menjadi agenda awal peringatan tersebut. Kegiatan yang diselenggarakan oleh bersama dan itu menghadirkan edukasi mitigasi bencana bagi peserta.
Materi yang diberikan meliputi potensi ancaman gempa bumi, prosedur penyelamatan dan evakuasi, sistem pelaporan melalui aplikasi Jogja Digdaya, hingga simulasi kebencanaan. Penghargaan diberikan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkomitmen dalam pelaksanaan program strategis SPAB di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Country Director for Government Relations EDRR Indonesia, mengatakan penghargaan tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun budaya keselamatan sejak di lingkungan sekolah. "Penghargaan ini kami terima sebagai pengingat bahwa keselamatan harus dimulai dari ruang kelas. EDRR Indonesia memandang Satuan Pendidikan Aman Bencana bukan sekadar program, melainkan investasi jangka panjang," ujar Rakyan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan Pasar Penyintas di Lapangan Garuda, kawasan Pasar Penyintas menghadirkan 44 pelaku UMKM penyintas Gempa Yogyakarta 2006 sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi dan memperkuat ketangguhan masyarakat pascabencana.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, mengatakan peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat memori kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi lintas sektor.
Rakyan menambahkan, keterlibatan EDRR Indonesia dalam peringatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan terhadap penanggulangan bencana di Tanah Air. "Semangat ini akan kami lanjutkan melalui EDRR Indonesia 2026, pameran teknologi mitigasi bencana terbesar di Asia Tenggara, yang berlangsung pada 12 hingga 14 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kami mengajak pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadikan peringatan ini sebagai titik tolak budaya tangguh bencana yang nyata," tutup Rakyan.
Kesimpulan, gempa bumi merupakan bencana alam yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, penting untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat terhadap bencana ini. Dengan demikian, kita dapat meminimalkan dampak bencana dan memperkuat ketangguhan masyarakat pascabencana.











