GemaWarta – 20 Mei 2026 | Surabaya Vaganza 2026 telah sukses digelar pada Sabtu (16/5) malam, dengan tema Festival of Lights: Garden of Hope. Acara ini tidak hanya menjadi pesta cahaya yang spektakuler, tetapi juga mendongkrak ekonomi dan pariwisata di Surabaya. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa peningkatan kunjungan wisata sebesar 12,5 persen dan okupansi hotel sebesar empat persen menjadi indikator bahwa sektor pariwisata Kota Pahlawan terus bergerak dan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian daerah.
Surabaya Vaganza 2026 menjadi salah satu dari 125 program unggulan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Pelaksanaan pada tahun ini dikemas lebih spektakuler melalui konsep festival cahaya yang memadukan mobil hias bunga, pencahayaan artistik, kostum bercahaya hingga light show. Sebanyak 35 peserta ikut ambil bagian dalam parade bunga malam hari tersebut.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya juga dihadapkan pada tantangan untuk menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah tersebut. Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Ghofar Ismail meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) melakukan pemeriksaan lapak penjualan hewan kurban untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan aman. Ghofar juga mengimbau panitia iduladha menyiapkan tempat pembuangan limbah hewan kurban sebelum disembelih.
Penertiban PKL di Surabaya juga menjadi perhatian, karena di tengah semangat penertiban, ada hal yang tidak boleh hilang ruang hidup wong cilik. Audiensi pedagang Stren Kali Kepiting ke DPRD Surabaya memperlihatkan satu kegelisahan. Mereka bukan menolak aturan sepenuhnya, melainkan takut kehilangan sumber penghidupan.
Kota yang baik bukan hanya kota yang bersih dipandang, melainkan juga kota yang memberi ruang bagi warganya untuk bertahan hidup secara layak. Pemerintah seharusnya tidak hanya memakai pendekatan pengosongan, tetapi juga dialog dan penataan yang lebih manusiawi. Sebab menggusur lapak tidak otomatis menghapus kebutuhan hidup.
Surabaya Vaganza 2026 telah menunjukkan bahwa kegiatan budaya dan pariwisata mampu menjadi penggerak ekonomi kota. Namun, Pemerintah Kota Surabaya juga harus memperhatikan kebutuhan wong cilik dan memberikan ruang hidup yang layak bagi mereka.











