GemaWarta – 21 Mei 2026 | Harga emas dunia mengalami peningkatan pada Rabu, 20 Mei 2026, setelah melemahnya dolar AS. Harga emas spot naik 1,4 persen menjadi USD4.543,51 per ons, sementara harga emas berjangka turun 0,3 persen menjadi USD4.546,35 per ons.
Penurunan dolar AS disebabkan oleh meredanya aksi jual obligasi global dan peningkatan sentimen risiko setelah Presiden Donald Trump mengatakan Washington berada di “tahap akhir” pembicaraan perdamaian dengan Iran.
Logam mulia lainnya, seperti perak spot naik 3,5 persen menjadi USD76,2795 per ons, sementara harga platinum spot turun 0,7 persen menjadi USD1.963,05 per ons.
Melemahnya dolar AS juga berdampak pada harga bahan baku produksi, seperti kain, resleting, benang, dan aksesori tas, yang mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Perajin usaha kecil mikro menengah (UMKM) tas Aceh, Faisal, menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan baku tersebut membuat biaya produksi mereka meningkat, sehingga laba yang diperoleh semakin kecil.
Dampak lain dari melemahnya dolar AS adalah turunnya daya beli masyarakat, sehingga produksi tempe di Kota Batu juga terkena dampak.
Pengrajin tempe, Siti Komariah, menuturkan bahwa harga kedelai impor yang melambung tinggi membuat mereka kesulitan untuk memproduksi tempe, sehingga banyak pengrajin kecil yang terpaksa berhenti produksi.
Melemahnya dolar AS juga berdampak pada harga emas perkasa, yang mengalami peningkatan 1% pada Rabu, 20 Mei 2026, didorong harapan penyelesaian perang Iran menekan pasar minyak.
Sentimen ini juga meredakan sejumlah kekhawatiran inflasi dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dari level tertinggi baru-baru ini.
Harga emas di pasar spot naik 1% menjadi USD 4.532,72 per ounce, harga emas mencapai titik terendah lebih dari tujuh minggu sebelumnya.
Dalam kondisi ini, para pengrajin kecil harus berusaha untuk tetap bertahan, dengan mengurangi ukuran atau memotong panjang tempe yang dijualnya demi menekan biaya produksi.
Kesimpulan, melemahnya dolar AS berdampak pada harga emas dan bahan baku produksi, sehingga para pengrajin kecil harus berusaha untuk tetap bertahan dengan menghadapi kenaikan biaya produksi dan turunnya daya beli masyarakat.











