GemaWarta – 24 Mei 2026 | Krisis ekonomi global yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Setelah berbulan-bulan konflik, Iran dan AS telah sepakat untuk menghentikan konflik di semua front. Kesepakatan ini berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi energi global karena menjadi lintasan utama bagi sepertiga pasokan minyak mentah laut dunia.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan". Pengumuman resmi tersebut mengonfirmasi bahwa proses penyelarasan detail akhir perjanjian kini sedang berjalan intensif. Iran dilaporkan telah menyetujui draf rekonsiliasi demi mengakhiri konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat.
Komitmen ini menjadi titik balik penting setelah konflik berkepanjangan melumpuhkan aktivitas maritim. Dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, kapal dagang internasional nantinya dapat melintasi selat tersebut tanpa dibayangi pungutan bea sepihak dari militer Iran. Kebijakan bebas hambatan ini diharapkan mampu menekan pembengkakan biaya logistik laut global.
Sementara itu, di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menerima masukan dari sejumlah mantan pejabat ekonomi dan eks gubernur Bank Indonesia (BI) terkait pengalaman menghadapi krisis ekonomi 1998 hingga 2008 untuk mengantisipasi gejolak global saat ini. Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri pertemuan tersebut di Istana Kepresidenan Jakarta.
Menurut Airlangga, para tokoh tersebut membagikan pengalaman mereka saat menghadapi krisis ekonomi global pada periode 2004 hingga 2014, termasuk lonjakan inflasi dan pelemahan nilai tukar akibat krisis minyak dunia. Ia menjelaskan pada masa itu Indonesia pernah menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$140 per barel yang memicu tekanan besar terhadap ekonomi nasional.
Namun, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih baik dibanding periode krisis sebelumnya. Airlangga menyebut fundamental ekonomi nasional masih kuat dan tekanan terhadap rupiah relatif lebih terkendali. Pemerintah kini memanfaatkan pengalaman masa lalu sebagai bahan antisipasi menghadapi ketidakpastian ekonomi global ke depan.
Di sisi lain, pemerintah juga melakukan penghematan anggaran untuk menghadapi gejolak global. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah akan dikurangi dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan, imbas anggaran MBG dipangkas menjadi Rp268 triliun pada 2026. Pengurangan hari layanan berlaku untuk sebagian besar sekolah, kecuali sekolah yang masih menjalankan kegiatan belajar enam hari dan sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.
Dengan demikian, diharapkan pemerintah dapat menghadapi krisis ekonomi global dengan lebih siap dan efektif. Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghematan anggaran merupakan langkah-langkah strategis untuk menghadapi gejolak global.
Kesimpulan, krisis ekonomi global yang dipicu oleh konflik antara Iran dan AS mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Dengan kesepakatan damai antara Iran dan AS, serta langkah-langkah strategis pemerintah Indonesia, diharapkan krisis ekonomi global dapat diatasi dan perekonomian nasional dapat kembali stabil.











