GemaWarta – 19 April 2026 | Gama Dian Nugroho, dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Sriwijaya, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar tidak layak dijadikan makanan manusia. Ia menjelaskan bahwa spesies ini mampu bertahan di lingkungan dengan tingkat pencemaran tinggi, namun kemampuan tersebut justru membuatnya menyerap logam berat seperti merkuri dan timbal yang kemudian menumpuk di jaringan otot.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025) mencatat peningkatan populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung hingga 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Lonjakan tersebut memicu aksi penangkapan massal oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. Pada pekan terakhir April 2026, sekitar 6,98 ton atau hampir 70 ribu ekor ikan sapu-sapu berhasil ditangkap di berbagai titik sungai, kemudian dibelah dua dan dikubur di lokasi yang telah ditentukan untuk mencegah penyalahgunaan.
- Arief Prakoso, Kepala Seksi Perikanan KPKP Jakarta Selatan, menegaskan bahwa penguburan dilakukan untuk memastikan tidak ada penyelewengan hasil tangkapan.
- Hasudungan A. Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, menambahkan bahwa proses ini diawasi secara ketat.
- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti bahaya logam berat yang melebihi 0,3 mg/kg pada ikan tersebut, menjadikannya tidak aman bahkan untuk pakan ternak.
Menurut Gama, selain kontaminasi logam berat, ikan sapu-sapu juga mengandung bakteri patogen yang sulit dihilangkan meski melalui proses pemasakan. Dari segi nilai gizi, dagingnya lebih rendah dibandingkan ikan konsumsi populer di Indonesia, sehingga tidak menawarkan manfaat nutrisi yang signifikan.
Bahaya jangka panjang bagi kesehatan manusia meliputi peningkatan risiko gangguan sistem saraf, kerusakan organ, hingga potensi efek karsinogenik. Konsumsi berulang dapat menyebabkan akumulasi logam berat dalam tubuh, yang pada akhirnya memicu penyakit kronis.
Pengolahan ikan sapu-sapu menjadi produk olahan seperti bakso atau nugget ikan seringkali menyamarkan tekstur dan rasa, membuat konsumen sulit mendeteksi kehadirannya. Praktik ini membuka celah bagi produsen nakal yang memanfaatkan bahan baku murah tanpa mengindahkan standar keamanan pangan.
Selain dampak kesehatan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang mengancam ekosistem perairan. Di negara lain, seperti Iran dan Bangladesh, penyebaran ikan ini telah menurunkan keberagaman ikan asli, mengganggu rantai makanan, dan menurunkan kualitas air.
Pihak berwenang berencana melibatkan akademisi untuk mengembangkan teknologi pengendalian yang lebih efektif. Upaya jangka panjang mencakup penelitian biologi molekuler serta pengembangan metode penangkapan selektif yang dapat mengurangi dampak pada spesies lokal.
Dengan kombinasi data ilmiah, kebijakan pemerintah, dan kesadaran publik, diharapkan ancaman kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan oleh ikan sapu-sapu dapat diminimalisir. Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan ini dan mendukung upaya pengendalian yang sedang berlangsung.











