Ekonomi

Kenaikan Harga Pertamax Picu Lonjakan Konsumsi Pertalite hingga 15%

×

Kenaikan Harga Pertamax Picu Lonjakan Konsumsi Pertalite hingga 15%

Share this article
Kenaikan Harga Pertamax Picu Lonjakan Konsumsi Pertalite hingga 15%
Kenaikan Harga Pertamax Picu Lonjakan Konsumsi Pertalite hingga 15%

GemaWarta – 18 Juli 2026 | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax, telah memicu perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat. Menurut data dari PT Pertamina Patra Niaga, konsumsi Pertalite meningkat sekitar 9,4% pada Juli 2026 dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sementara itu, penjualan BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series mengalami penurunan sekitar 18%.

Perubahan ini terjadi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku pada 18 April 2026. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan bahwa masyarakat kini lebih banyak menggunakan produk BBM bersubsidi, terutama Pertalite dan Biosolar. Hal ini menyebabkan lonjakan permintaan BBM bersubsidi di hampir seluruh wilayah Indonesia.

🔖 Baca juga:
Outlook Ekonomi Global Terkini: Dampak Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Inflasi

Di sisi lain, penurunan penjualan BBM nonsubsidi juga terjadi pada segmen BBM diesel. Konsumsi Biosolar meningkat sekitar 13,9% pada Juli 2026, sementara penjualan Dex Series turun sekitar 6,4%. Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai beralih ke BBM bersubsidi sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

Antrean kendaraan di SPBU juga menjadi bukti dari lonjakan konsumsi Pertalite. Banyak masyarakat yang rela mengantre berjam-jam untuk mengisi Pertalite, bahkan ada yang memilih untuk membeli Pertamax sebagai alternatif yang lebih cepat. Namun, harga Pertamax yang lebih mahal membuat sebagian masyarakat harus melakukan penyesuaian terhadap pengeluaran lain agar kondisi keuangan tetap stabil.

Pertamina telah menurunkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Namun, kebijakan tersebut tidak diikuti dengan penurunan harga Pertamax sehingga memunculkan pertanyaan di kalangan konsumen.

🔖 Baca juga:
DJP Perluas Pemungut Pajak Digital dan Waspadai Penipuan Restitusi Pajak

Stok BBM nasional masih dalam kondisi aman, namun distribusi ke SPBU tersendat. Pemerintah menyebut bahwa stok BBM bersubsidi nasional dalam kondisi aman, tetapi masyarakat justru menghadapi kenyataan berbeda. Antrean kendaraan mengular hingga berjam-jam, SPBU kehabisan pasokan, bahkan ada yang meninggal dunia saat menunggu giliran mengisi solar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlu ada penyesuaian dalam sistem distribusi BBM untuk mengimbangi lonjakan permintaan. Pemerintah dan Pertamina perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa stok BBM yang ada dapat disalurkan dengan efektif ke masyarakat.

Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat telah merasakan dampak dari kenaikan harga BBM nonsubsidi. Banyak yang telah beralih ke BBM bersubsidi sebagai alternatif yang lebih terjangkau. Namun, perlu diingat bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga memiliki dampak pada perekonomian masyarakat.

🔖 Baca juga:
IHSG Diperkirakan Melemah, Rekomendasi Saham dan Analisis

Oleh karena itu, perlu ada kebijakan yang tepat untuk mengatur harga BBM nonsubsidi dan memastikan bahwa stok BBM yang ada dapat disalurkan dengan efektif ke masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati harga BBM yang terjangkau dan perekonomian dapat tetap stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *