GemaWarta – 27 Juli 2026 | Beberapa kejadian ledakan dahsyat telah terjadi di berbagai lokasi, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa. Pasar Modern BSB Semarang, misalnya, mengalami kebakaran hebat setelah ledakan gas elpiji di warung soto. Kebakaran ini berhasil dipadamkan setelah beberapa jam, tetapi 50 kios turut terdampak.
Sementara itu, di Medan, ledakan dahsyat meluluhlantakkan rumah mewah di Kompleks Grand Polonia. Hasil uji forensik menunjukkan bahwa ledakan tersebut dipicu oleh akumulasi gas metana yang bocor dan terperangkap di dalam bangunan sebelum akhirnya tersulut api. Tim gabungan dari kepolisian bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) masih bekerja maraton melakukan uji kebocoran untuk melacak sumber utama keluarnya gas tersebut.
Di India, ledakan terjadi di terowongan yang masih dibangun untuk proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Distrik Namchi, Negara Bagian Sikkim. Ledakan tersebut menyebabkan 25 pekerja tewas setelah terjebak di dalam terowongan. Perusahaan listrik milik negara, National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), menyatakan bahwa ledakan dipicu oleh semburan mendadak yang diduga berasal dari gas metana di dalam bebatuan.
Meta, perusahaan induk Facebook, juga memiliki masalah terkait energi. Mereka memutuskan keluar dari komitmen global penggunaan energi terbarukan 100% (RE100) karena meningkatnya kebutuhan listrik untuk mendukung ekspansi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menandai perubahan strategi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan energi pusat data mereka.
Kesimpulan, ledakan dahsyat telah terjadi di berbagai lokasi, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa. Penyebab ledakan ini bervariasi, mulai dari akumulasi gas metana hingga semburan mendadak dari gas metana di dalam bebatuan. Perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menentukan penyebab pasti ledakan tersebut dan mencegah kejadian serupa di masa depan.











