GemaWarta – 29 Juli 2026 | Dunia saat ini sedang bergerak menuju era multipolar, di mana beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia berkompetisi untuk memperebutkan pengaruh global. Perubahan ini juga mempengaruhi ekonomi dan keuangan internasional, di mana dolar AS tidak lagi menjadi satu-satunya mata uang dominan.
Menurut Prof Evi Fitriani, seorang ahli hubungan internasional dari Universitas Indonesia, perang pengaruh global telah bergeser dari kompetisi kekuatan militer dan akumulasi modal ekonomi menjadi kompetisi di bidang teknologi, perdagangan, dan pengaruh budaya. Hal ini memerlukan strategi diplomasi yang lebih adaptif dan fleksibel.
ASEAN, sebagai sebuah organisasi regional, juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan relevansinya di era multipolar ini. Indonesia, sebagai salah satu negara anggota ASEAN, perlu memperkuat kapasitasnya untuk beradaptasi dengan perubahan ini dan memanfaatkan peluang yang ada.
Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mengembangkan dimensi geososial, yaitu memanfaatkan modal sosial dan pertukaran budaya untuk memperkuat pengaruh politik. Ini dapat dilakukan melalui kerja sama dengan negara-negara lain, pengembangan infrastruktur, dan promosi budaya.
Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat kapasitasnya untuk berkompetisi di bidang teknologi, perdagangan, dan pengaruh budaya. Ini dapat dilakukan melalui investasi di bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi, serta memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain.
Dalam kesimpulan, dunia menuju era multipolar memerlukan strategi diplomasi yang lebih adaptif dan fleksibel. Indonesia, sebagai salah satu negara anggota ASEAN, perlu memperkuat kapasitasnya untuk beradaptasi dengan perubahan ini dan memanfaatkan peluang yang ada. Dengan mengembangkan dimensi geososial dan memperkuat kapasitasnya di bidang teknologi, perdagangan, dan pengaruh budaya, Indonesia dapat mempertahankan relevansinya di era multipolar ini.











