GemaWarta – 25 April 2026 | Industri otomotif Indonesia kini berada di persimpangan penting, di mana kendaraan listrik (EV) menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan. Pada 2026, sejumlah peluncuran model baru menambah daya tarik konsumen, mulai dari sedan kompak hingga MPV 7‑seater yang dilengkapi fitur premium seperti kursi pijat. Semua ini terjadi bersamaan dengan kebijakan insentif pajak yang bervariasi di tiap daerah, mempercepat adopsi mobil listrik di tanah air.
Chery QQ 2026 menjadi sorotan utama setelah diumumkan siap bersaing dengan Geely EX2 dan Aion UT di pasar domestik. Model ini mengusung desain futuristik, baterai berkapasitas tinggi, serta kemampuan pengisian cepat yang dapat mengisi daya 0‑80% dalam kurang dari 30 menit. Dengan jangkauan lebih dari 450 km per sekali charge, Chery QQ menargetkan segmen menengah‑atas yang mengutamakan performa sekaligus efisiensi biaya operasional.
Sementara itu, konsumen yang membutuhkan ruang kabin lega dapat mempertimbangkan lima rekomendasi mobil listrik 7‑seater yang hadir dengan harga kompetitif. Berikut rangkumannya:
- BYD M6 – Dikenal sebagai “Avanza listrik”, M6 dibanderol Rp 383‑433 juta. Ditenagai motor 150 kW, torsi 310 Nm, dan dilengkapi Blade Battery yang aman. Fitur modern meliputi rotating screen, panoramic sunroof, V2L, serta pengisian nirkabel.
- Wuling Cortez Darion EV – Harga Rp 356‑489 juta, menawarkan jangkauan hingga 540 km dengan baterai LFP 69,2 kWh. Memiliki tenaga 201 HP, fast charging CCS2 30‑80% dalam 30 menit, dan paket ADAS lengkap.
- VinFast Limo Green – Menyasar segmen premium, dilengkapi kamera 360°, sensor parkir, kursi one‑touch tumble, dan sistem bantuan mengemudi canggih.
- Denza D9 – MPV mewah hasil kolaborasi BYD‑Mercedes, harga sekitar Rp 950 juta. Memiliki Blade Battery 103 kWh, jangkauan 600 km, serta fitur kursi pijat, kulkas mini, dan Lidar‑based ADAS.
- Geely EX5 – SUV listrik pertama Geely di Indonesia, menampilkan kursi pijat, kulkas dalam kabin, dan jarak tempuh 602 km (NEDC). Harga diperkirakan Rp 489 juta.
Tak hanya soal performa, kebijakan fiskal menjadi faktor penentu adopsi. Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri mendorong pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) bagi EV, namun implementasinya diserahkan kepada pemerintah daerah. Pada skenario optimal, biaya tahunan kepemilikan EV dapat turun menjadi sekitar Rp 143 ribu, hanya menyisakan kontribusi pada Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ). Tanpa insentif, kendaraan entry‑level seperti BYD Atto 1 atau Geely EX2 dapat menanggung pajak tahunan Rp 4‑6 juta, sementara model premium seperti Denza D9 dapat melampaui Rp 16 juta.
Pertumbuhan penjualan EV di Indonesia mencerminkan perubahan paradigma. Data Gaikindo menunjukkan porsi BEV naik dari 0,1 % pada 2021 menjadi 15,6 % pada Maret 2026, sementara kendaraan berbahan bakar internal (ICE) turun menjadi 75 %. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga BBM, peningkatan jangkauan EV hingga 600 km, serta dukungan regulasi yang menekankan target net‑zero emission. Pemerintah daerah kini menerapkan tarif pajak progresif: kendaraan di atas Rp 500 juta dikenakan tarif lebih tinggi, sedangkan yang di bawah Rp 300 juta mendapat tarif rendah.
Fitur kenyamanan juga menjadi nilai jual utama. Kursi pijat, yang dulu hanya ditemukan pada mobil mewah berbahan bakar fosil, kini hadir pada beberapa EV premium. AION V Luxury menawarkan kursi pijat serta kulkas mini, sementara Denza D9 menyediakan kursi pijat dengan pengaturan suhu hingga -6 °C. Keunggulan ini tidak hanya meningkatkan pengalaman berkendara, tetapi juga menambah nilai ekonomis bagi pengguna yang sering menempuh perjalanan jauh.
Secara keseluruhan, kombinasi antara inovasi produk, kebijakan fiskal yang fleksibel, dan peningkatan infrastruktur pengisian daya menyiapkan pasar Indonesia untuk era mobil listrik yang lebih luas. Konsumen kini memiliki pilihan mulai dari sedan kompak Chery QQ, MPV 7‑seater terjangkau, hingga SUV premium dengan kursi pijat. Dukungan pemerintah daerah serta upaya industri dalam menurunkan biaya produksi baterai diharapkan mempercepat penetrasi EV, sekaligus mendukung agenda pengurangan emisi karbon nasional.
Dengan ekosistem yang terus berkembang, mobil listrik tidak lagi sekadar alternatif, melainkan menjadi standar baru bagi mobilitas modern di Indonesia.











