GemaWarta – 14 April 2026 | Yai Mim, mantan peserta reality show yang kemudian menjadi narapidana, meninggalkan jejak yang tak terduga di balik jeruji besi penjara Narkoba Kelas IIB. Istrinya, yang baru-baru ini mengungkapkan detail-detail pribadi sang suami, menuturkan bagaimana sikap ceria dan kebiasaan sehari-hari Yai Mim menjadi sorotan utama menjelang kematiannya pada 27 Januari 2024.
Menurut istri Yai Mim, suaminya selalu memulai hari dengan senyum lebar, meski berada di lingkungan yang keras. “Dia bangun pukul empat pagi, menata tempat tidurnya, lalu berdoa singkat sebelum pergi ke lapangan kerja di dalam penjara,” ungkapnya. Rutinitas tersebut diiringi dengan kebiasaan unik: Yai Mim selalu membawa buku catatan kecil untuk menuliskan lelucon‑lelucon yang ia temukan selama bekerja. “Buku itu menjadi pelarian mentalnya, dan ia sering membacakan lelucon itu kepada teman‑teman sekamarnya,” tambahnya.
Selain itu, istri Yai Mim mengungkapkan bahwa suaminya memiliki kebiasaan olahraga ringan, yaitu push‑up dan sit‑up di sudut sel setiap dua jam. “Ia percaya bahwa gerakan fisik dapat menjaga kebugaran dan mengurangi stres,” jelasnya. Kebiasaan ini membuatnya terlihat lebih bertenaga dibandingkan narapidana lain yang biasanya tampak lesu.
Namun, di balik kebiasaan positif itu, terdapat permintaan tak biasa yang disampaikan Yai Mim kepada istri beberapa minggu sebelum kematiannya. Ia meminta agar istri tidak mengadakan pemakaman yang megah, melainkan mengadakan upacara sederhana di rumah. “Dia ingin agar kami semua tetap fokus pada nilai kebersamaan dan tidak terjebak dalam pamer,” kata istri dengan mata berkaca‑kaca.
Permintaan tersebut ternyata menjadi simbol dari perubahan mental Yai Mim menjelang akhir hayatnya. Ia mengaku merasakan adanya firasat bahwa ajalnya semakin dekat. “Saya merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, seolah-olah tubuh saya memberi sinyal bahwa waktunya hampir tiba,” katanya. Firasat ini, menurut istri, membuat Yai Mim semakin menghargai setiap detik yang ada, sehingga ia semakin aktif membantu sesama narapidana, memberikan semangat, dan mengorganisir kegiatan kebersamaan.
Hari terakhir Yai Mim terjadi secara mendadak. Pada 25 Januari 2024, saat sedang berjalan menuju ruang kerja, ia tiba‑tiba terjatuh karena terpeleset di lantai yang licin. Jatuh tersebut mengakibatkan cedera pada leher, yang kemudian menyebabkan asfiksia. Tim medis penjara berusaha memberikan pertolongan, namun kondisi Yai Mim semakin memburuk dan ia dinyatakan meninggal pada hari berikutnya.
Insiden tersebut memicu pertanyaan mengenai standar keamanan di penjara. Namun, istri Yai Mim menegaskan bahwa fokus utama seharusnya pada warisan moral yang ditinggalkan sang suami. “Dia mengajarkan bahwa dalam keterbatasan, masih ada ruang untuk kebahagiaan dan kebaikan,” tuturnya.
Berikut rangkuman kebiasaan Yai Mim selama di penjara:
- Bangun dini dan berdoa singkat setiap pagi.
- Mengisi buku catatan dengan lelucon dan cerita ringan.
- Olahraga ringan setiap dua jam: push‑up dan sit‑up.
- Memberi semangat kepada sesama narapidana melalui kegiatan kelompok.
- Meminta upacara pemakaman sederhana sebagai bentuk keikhlasan.
Kisah Yai Mim mengingatkan publik bahwa di balik sorotan media, terdapat manusia dengan perasaan, kebiasaan, dan keinginan yang sederhana. Meskipun nasibnya berakhir tragis, warisan semangatnya tetap hidup dalam ingatan orang‑orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Secara keseluruhan, pengungkapan istri Yai Mim memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan sang suami di dalam penjara: sebuah perjalanan yang dipenuhi senyum, kebiasaan positif, serta keinginan untuk meninggalkan jejak kebaikan meski dalam situasi yang paling menantang.









