GemaWarta – 30 Mei 2026 | Beberapa emiten tambang dan energi telah mengungkapkan potensi dampak dari skema ekspor terpusat melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Risiko yang disoroti antara lain berkurangnya fleksibilitas bisnis, bertambahnya rantai birokrasi, hingga tekanan terhadap profitabilitas perusahaan.
Aktivitas bongkar muat batu bara di pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Selasa (20/2/2024), menjadi salah satu contoh dampak dari skema ekspor terpusat.
Skema ekspor terpusat melalui DSI diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional. Namun, beberapa emiten tambang dan energi khawatir bahwa skema ini dapat berdampak negatif pada bisnis mereka.
Salah satu risiko yang disoroti adalah berkurangnya fleksibilitas bisnis. Dengan skema ekspor terpusat, perusahaan tambang dan energi harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh DSI, yang dapat membatasi kemampuan mereka untuk mengambil keputusan bisnis yang cepat dan fleksibel.
Risiko lainnya adalah bertambahnya rantai birokrasi. Skema ekspor terpusat melalui DSI dapat menambahkan lapisan birokrasi tambahan, yang dapat memperlambat proses ekspor dan meningkatkan biaya operasional.
Tekanan terhadap profitabilitas perusahaan juga menjadi salah satu risiko yang disoroti. Dengan skema ekspor terpusat, perusahaan tambang dan energi harus membayar biaya operasional yang lebih tinggi, yang dapat mempengaruhi profitabilitas mereka.
ABMM, AMMN, ANTM, dan NICE adalah beberapa emiten tambang dan energi yang telah mengungkapkan potensi dampak dari skema ekspor terpusat melalui DSI. Mereka berharap bahwa skema ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif pada bisnis mereka.
Kesimpulan, skema ekspor terpusat melalui DSI memiliki potensi dampak yang signifikan pada bisnis tambang dan energi. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi yang cermat dan pengaturan yang tepat untuk memastikan bahwa skema ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien.











