Kesehatan

Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat

×

Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat

Share this article
Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat
Bayi 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran, Dokter IDAI Ungkap Risiko dan Tindakan Darurat

GemaWarta – 14 April 2026 | Sabtu, 11 April 2026, sebuah video yang menampilkan seorang balita berusia sekitar satu setengah tahun tampak kedinginan dan rewel di puncak Gunung Ungaran, Jawa Tengah, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Anak perempuan tersebut, yang kemudian diketahui bernama Lan Lan, mengalami penurunan suhu tubuh drastis setelah cuaca berubah menjadi hujan lebat pada sore hari. Tim SAR gabungan Basarnas yang berada di lokasi segera melakukan pertolongan pertama, menghangatkan tubuh balita dengan metode skin‑to‑skin dan penutup yang kering, lalu menurunkannya ke Basecamp Perantunan untuk perawatan lanjutan.

Kasus ini memicu kepanikan publik dan menimbulkan pertanyaan kritis mengenai keamanan membawa balita ke area pegunungan. Beberapa pihak, termasuk dokter anak dari berbagai institusi, memberikan penjelasan medis terperinci serta rekomendasi bagi orang tua yang ingin memperkenalkan anak pada alam terbuka.

🔖 Baca juga:
Steven Wongso Disentil Balik: Edukasi Gula Martabak vs. Bahaya Steroid Anabolik

Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua, menegaskan perbedaan mendasar antara wisata santai di gunung dengan pendakian yang menuntut stamina tinggi. “Jika dalam konteks wisata ke gunung, anak masih dapat ikut asalkan dipantau ketat, namun pendakian serius memerlukan penilaian medis yang cermat,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, 14 April 2026. Dr. Arifin menyoroti dua faktor utama yang meningkatkan risiko: penurunan suhu udara seiring naiknya ketinggian serta penipisan kadar oksigen yang dapat memicu mabuk ketinggian. Kedua faktor tersebut memperparah kerentanan balita dalam mempertahankan suhu tubuh, terutama ketika anak berada dalam gendongan tanpa aktivitas otot yang menghasilkan panas.

Dokter spesialis anak RS Sari Asih Ciledug, Tangerang, menambahkan bahwa balita memiliki luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan massa lemak, sehingga kehilangan panas lebih cepat. Ia juga menekankan bahwa balita belum dapat mengkomunikasikan keluhan secara verbal; gejala seperti rewel, penurunan nafsu makan, atau kelelahan sering kali menjadi satu‑satunya indikator awal hipotermia.

Dr. Aisya Fikritama, SpA, dari RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, menjelaskan bahwa hipotermia didefinisikan sebagai suhu tubuh di bawah 35°C. Pada bayi, suhu tubuh dapat turun secara signifikan dalam hitungan menit ketika terpapar angin dingin atau pakaian basah. Ia mengingatkan, “Kondisi cuaca di gunung dapat berubah drastis, terutama pada sore hingga malam hari, sehingga anak mudah kehilangan panas tubuhnya.” Menurutnya, faktor utama yang memperparah kondisi adalah pakaian yang tidak cukup tebal atau basah karena hujan, serta kelelahan akibat kurang asupan energi selama pendakian.

Dalam menanggapi insiden tersebut, IDAI mengeluarkan panduan singkat bagi orang tua. Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, Sp.A, menekankan pentingnya menghindari pakaian basah yang dapat mempercepat kehilangan panas. “Jika anak mengalami hipotermia ringan, langkah pertama adalah membuka pakaian basah, mengeringkan tubuh, lalu melakukan kontak kulit‑ke‑kulit (skin‑to‑skin) dengan orang tua,” jelasnya. Teknik ini mirip dengan Kangaroo Mother Care (KMC) yang telah terbukti efektif pada bayi prematur.

Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Ketua Pengurus Pusat IDAI, menambahkan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas outdoor. Ia mengingatkan bahwa balita di bawah tiga tahun masih memiliki sistem termoregulasi yang belum matang, sehingga mudah mengalami dehidrasi serta kehilangan cairan tubuh. “Jangan membawa balita ke gunung dengan potensi hujan, basah, atau suhu ekstrem. Pilih aktivitas yang lebih ringan seperti hiking pendek yang mudah dievakuasi,” sarannya.

Berbagai pihak sepakat bahwa persiapan matang sangat penting. Berikut rangkuman rekomendasi IDAI untuk orang tua yang ingin mengajak anak ke alam terbuka:

  • Hindari pendakian gunung tinggi bagi balita; pilih jalur hiking ringan dengan akses evakuasi cepat.
  • Periksa prakiraan cuaca secara cermat dan hindari hari dengan potensi hujan deras atau suhu ekstrem.
  • Gunakan pakaian berlapis, lapisan luar yang tahan air, dan pastikan semua pakaian tetap kering.
  • Pastikan anak tetap terhidrasi dengan menyediakan cairan yang cukup selama perjalanan.
  • Siapkan metode pertolongan pertama, termasuk teknik skin‑to‑skin dan selimut hangat.
  • Amati tanda‑tanda awal hipotermia: rewel, kulit pucat, menggigil, atau penurunan nafsu makan.

Kasus Lan Lan menjadi pengingat bahwa anak bukanlah “miniatur dewasa” yang dapat menahan kondisi ekstrem dengan mudah. Meskipun niat orang tua untuk mengenalkan anak pada keindahan alam terpuji, keputusan harus didasarkan pada pertimbangan medis yang matang dan kesiapan logistik. Dengan mengikuti pedoman kesehatan serta memperhatikan kondisi cuaca dan kemampuan fisik anak, risiko hipotermia dapat diminimalkan, menjamin pengalaman outdoor yang aman dan menyenangkan bagi seluruh keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *