Kesehatan

Tragedi di RSUD Jambi: dr. Myta Aprilia, Dokter Magang 25 Tahun yang Tetap Jaga Meski Sakit

×

Tragedi di RSUD Jambi: dr. Myta Aprilia, Dokter Magang 25 Tahun yang Tetap Jaga Meski Sakit

Share this article
Tragedi di RSUD Jambi: dr. Myta Aprilia, Dokter Magang 25 Tahun yang Tetap Jaga Meski Sakit
Tragedi di RSUD Jambi: dr. Myta Aprilia, Dokter Magang 25 Tahun yang Tetap Jaga Meski Sakit

GemaWarta – 05 Mei 2026 | Jambi, 5 Mei 2026 – Dunia medis Jambi dikejutkan oleh meninggalnya dr. Myta Aprilia, dokter magang berusia 25 tahun yang baru saja merayakan ulang tahunnya. Sebelum kepergiannya, dr. Myta sempat mengungkapkan curhatan tentang jadwal jaga yang padat di RSUD Jambi, meskipun dirinya tengah mengalami gejala penyakit yang belum lama terdiagnosa.

dr. Myta Aprilia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Jambi dan berhasil menyelesaikan fase klinis dengan predikat cumlaude. Setelah lulus, ia langsung melanjutkan program internship di RSUD Jambi, sebuah rumah sakit rujukan wilayah yang melayani ribuan pasien setiap tahunnya. Pada hari ulang tahunnya yang ke-25, dr. Myta mengadakan pertemuan virtual bersama teman-teman sejawat untuk merayakan momen bahagia tersebut, namun kebahagiaan itu singkat karena kondisi kesehatannya semakin menurun.

🔖 Baca juga:
Influenza A Mengancam Anak: Fakta Penyebaran, Risiko Fatal, dan Cara Efektif Pencegahan

Dalam sebuah curhat yang dibagikan melalui media sosial resmi intern, dr. Myta mengungkapkan beban kerja yang luar biasa. Ia menyebutkan bahwa jadwal jaga selama tiga minggu terakhir meliputi shift pagi, siang, dan malam secara bergantian, dengan sedikit jeda istirahat. “Saya sadar bahwa sebagai dokter magang, saya harus belajar dari lapangan, namun tubuh saya sudah memberi sinyal bahwa saya harus istirahat,” tulisnya dengan nada penuh keikhlasan.

Berikut adalah contoh jadwal kerja dr. Myta selama satu bulan terakhir:

  • Senin – Jumat: Shift pagi (07.00‑15.00) di poli umum.
  • Sabtu: Shift siang (12.00‑20.00) di unit gawat darurat.
  • Minggu: Shift malam (19.00‑07.00) di ruang ICU.
  • Setiap hari: Pemeriksaan rumah dan konsultasi telemedicine setelah jam kerja.

Jadwal yang padat itu membuat dr. Myta hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan pemeriksaan medis pribadi. Meski begitu, ia tetap berusaha menjalankan tugas dengan profesionalitas tinggi, bahkan ketika harus menangani kasus darurat seperti serangan jantung, komplikasi obstetri, dan trauma berat akibat kecelakaan lalu lintas.

🔖 Baca juga:
BPOM Gencarkan Pengawasan Nutri‑Level, Label Gizi, dan Program Makanan Gratis di Tengah Tantangan Anggaran

Rekan sejawatnya, Dr. Budi Santoso, salah satu senior di RSUD Jambi, mengungkapkan rasa hormatnya terhadap dedikasi dr. Myta. “Saya pernah melihatnya bekerja hingga dini hari tanpa mengeluh. Bahkan ketika ia mengeluh sakit, ia tetap menyiapkan resep dan menuntun timnya,” ujar Budi dalam pernyataan resmi rumah sakit.

Kematian dr. Myta terjadi pada tanggal 3 Mei 2026 setelah ia dirawat di unit perawatan intensif RSUD Jambi karena komplikasi infeksi saluran pernapasan yang cepat memburuk. Tim medis berupaya keras, namun kondisi pasien tidak dapat dipulihkan. Keluarga dekat, termasuk orang tua dan adik perempuan, menyatakan duka cita mendalam dan berharap agar pengalaman dr. Myta menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kesejahteraan tenaga kesehatan.

Kasus ini memicu perbincangan luas di kalangan profesional kesehatan mengenai beban kerja dokter magang. Beberapa asosiasi kedokteran mengusulkan revisi regulasi jam kerja, penambahan istirahat wajib, serta penyediaan layanan kesehatan mental bagi tenaga medis yang sedang menjalani program internship.

🔖 Baca juga:
Mobile JKN: Inovasi Digital yang Memperluas Akses Kesehatan untuk Semua Generasi

Selain reaksi di lingkungan medis, publik juga memberikan penghormatan melalui berbagai platform. Banyak netizen yang menulis, “dr. Myta Aprilia adalah contoh sejati dokter yang mengutamakan pasien di atas kepentingan pribadi,” sekaligus menyerukan perlunya kebijakan yang melindungi kesehatan para dokter muda.

RSUD Jambi sendiri berjanji akan meninjau kembali kebijakan penjadwalan intern, memastikan bahwa beban kerja tidak mengorbankan kesehatan pribadi. “Kami berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan suportif, serta memberikan dukungan medis yang memadai bagi para dokter magang,” kata Direktur RSUD Jambi, dr. Hendra Wijaya.

Kasus dr. Myta Aprilia mengingatkan semua pihak bahwa di balik dedikasi dan pengabdian, tenaga medis tetap manusia yang membutuhkan perhatian terhadap kesehatannya. Semoga tragedi ini mendorong perubahan kebijakan yang lebih manusiawi, sekaligus menjadi penghormatan abadi bagi dr. Myta Aprilia yang selalu menjaga pasien meski sedang sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *