GemaWarta – 25 April 2026 | Pada Jumat dini hari tanggal 24 April 2026, terjadi bentrok Walenrang yang melibatkan pemuda dari Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Konflik tersebut berlangsung hingga siang hari, bertepatan dengan masa kritis panen padi di wilayah tersebut.
Camat Walenrang, Ikram Ramin, menjelaskan bahwa situasi tidak kondusif membuat pedagang, termasuk pemilik alat combine harvester, enggan memasuki area terdampak. “Jika situasi tidak aman, pedagang tidak berani masuk termasuk pemilik alat combine harvester. Ini sangat berpengaruh terhadap harga gabah petani,” ujarnya pada Sabtu 25 April 2026.
Menurut Ikram, penundaan penjualan gabah selama dua hari saja dapat menurunkan harga secara signifikan. “Kalau gabah tertahan dua hari, harganya bisa anjlok. Ini yang kami khawatirkan karena sangat merugikan petani,” tegasnya. Data lapangan menunjukkan bahwa harga gabah turun hampir 15 persen dibandingkan dengan hari sebelum bentrok.
- Waktu kejadian: 24 April 2026, dini hari hingga siang.
- Lokasi: Desa Baramamase vs Desa Kalibamamase, Walenrang, Luwu.
- Dampak utama: Penurunan harga gabah, keterlambatan penjualan, kerugian petani.
Walikota Luwu menanggapi dengan menurunkan intensitas patroli keamanan dan menyiapkan dua pos gabungan antara Polres Luwu dan Satpol PP. Kompol Misbahuddin melaporkan bahwa situasi mulai kondusif sekitar pukul 10.00 WITA, sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Selain dampak ekonomi, bentrok ini menimbulkan luka pada empat warga serta kerusakan pada dua kios pedagang. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak luar yang terlibat, yang menurut Ikram memperparah konflik.
Para petani yang biasanya mengandalkan penjualan gabah pada hari pertama panen kini harus menunggu hingga keamanan terjamin kembali. Mereka mengeluhkan bahwa penurunan harga gabah tidak hanya mengurangi pendapatan, tetapi juga mengancam kelangsungan produksi pada musim berikutnya.
Para ahli ekonomi pertanian menekankan pentingnya stabilitas keamanan selama masa panen. “Ketidakpastian keamanan dapat memicu penurunan harga komoditas pertanian, terutama pada produk seperti gabah yang memiliki rantai pasok singkat,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman, melalui jajaran tim krisis daerah, berjanji akan memperkuat koordinasi antara aparat keamanan, kepolisian, serta tokoh masyarakat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Ia juga menyatakan akan mengalokasikan dana bantuan darurat bagi petani yang mengalami kerugian akibat penurunan harga gabah.
Dengan situasi yang kini mulai mereda, petani di Walenrang berharap pasar kembali terbuka dan harga gabah dapat pulih. Namun, mereka menegaskan bahwa keamanan harus menjadi prioritas utama sebelum proses panen selesai.











