GemaWarta – 17 April 2026 | Kepala badan intelijen Israel, David Barnea, menegaskan pada Selasa (14/4/2026) bahwa operasi rahasia terhadap Iran masih jauh dari selesai. Menurut Barnea, serangkaian serangan militer gabungan antara Israel dan Amerika Serikat belum cukup untuk menumbangkan rezim Tehran, dan kampanye penyerangan terhadap fasilitas militer, nuklir, serta infrastruktur kritis Iran hanyalah bagian awal dari strategi jangka panjang.
Barnea menyampaikan bahwa “misi kami belum selesai” dan bahwa kewajiban Mossad akan terpenuhi hanya setelah rezim ekstremis yang berusaha menghancurkan Israel “lenyap dari dunia”. Pernyataan ini jarang diungkapkan secara terbuka, mengingat Mossad biasanya tidak secara eksplisit menyebutkan tujuan perubahan rezim. Namun, keterbukaan ini mengindikasikan bahwa Israel masih menilai Iran sebagai ancaman utama meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya mengklaim bahwa dua ancaman eksistensial, yaitu program rudal balistik dan nuklir Iran, telah dinetralkan.
Serangan udara yang dilancarkan dalam beberapa pekan terakhir menargetkan lokasi-lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas penelitian nuklir dan pangkalan militer. Meskipun serangan tersebut berhasil menimbulkan kerusakan signifikan, Barnea menolak anggapan bahwa hal tersebut sudah cukup untuk mengakhiri pengaruh Tehran. Ia menambahkan bahwa Mossad memiliki kapasitas untuk menggerakkan oposisi internal Iran, memicu kerusuhan, dan bahkan memicu aksi pemberontakan yang dapat mengarah pada runtuhnya pemerintah.
Strategi ini sejalan dengan laporan sebelumnya yang menyebut bahwa Mossad telah lama menyiapkan jaringan operatif di dalam negeri Iran. Namun, hingga kini belum muncul gelombang protes berskala luas atau perpecahan signifikan dalam struktur keamanan Tehran, meskipun terdapat demonstrasi sporadis pada Desember 2025 dan Januari 2026.
- Operasi militer gabungan Israel-AS menargetkan fasilitas nuklir, militer, dan infrastruktur kritis Iran.
- Mossad menyatakan misi belum selesai hingga rezim Iran digantikan.
- Barnea menekankan kemampuan Mossad untuk memobilisasi oposisi Iran.
- Perubahan kepemimpinan Mossad dijadwalkan: Roman Gofman menggantikan Barnea pada 2 Juni 2026.
Di sisi lain, proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran terus berjalan. Kedua negara berupaya memperpanjang gencatan senjata yang saat ini akan habis pada akhir pekan depan, sambil mencari solusi damai jangka panjang. Presiden AS Donald Trump (sebelum meninggalkan jabatan) pernah menyatakan harapannya bahwa konflik yang berlangsung dapat membuka jalan bagi perubahan kekuasaan di Iran, sebuah harapan yang kini tampak selaras dengan retorika Barnea.
Perubahan kepemimpinan di Mossad juga menjadi sorotan. Roman Gofman, yang dijadwalkan mulai menjabat pada 2 Juni 2026, belum memiliki latar belakang panjang di bidang intelijen, menimbulkan pertanyaan tentang arah kebijakan Mossad ke depan. Meskipun demikian, Barnea menegaskan bahwa transisi kepemimpinan tidak akan mengubah komitmen Israel untuk melanjutkan operasi rahasia terhadap Iran.
Analisis para pakar keamanan menilai bahwa pendekatan Mossad yang kini lebih terbuka mengenai tujuan politiknya dapat meningkatkan tekanan internasional terhadap Iran, namun sekaligus berisiko memicu eskalasi konflik di wilayah tersebut. Keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi bersama Israel menambah dimensi geopolitik yang kompleks, terutama mengingat hubungan Amerika dengan sekutu regional lainnya.
Sementara itu, dalam laporan lain yang dirilis oleh media lokal, disebutkan bahwa Mossad mampu “menggerakkan oposisi Iran—memicu kerusuhan dan aksi pemberontakan lain yang bahkan bisa mengarah pada runtuhnya pemerintahan Iran.” Upaya ini tampaknya masih berada pada tahap persiapan, mengingat belum ada indikasi konkret mengenai aksi pemberontakan besar-besaran.
Kesimpulannya, deklarasi David Barnea menegaskan bahwa Mossad tidak akan berhenti sebelum rezim Iran digantikan, dan operasi rahasia akan terus berlanjut meski ada sinyal diplomatik untuk meredakan ketegangan. Pergantian pimpinan Mossad di bulan Juni mendatang menambah dinamika internal yang dapat memengaruhi strategi intelijen Israel di masa depan.











