GemaWarta – 15 April 2026 | Rutan Polresta Malang kembali menjadi sorotan publik setelah istri sah Yai Mim, Rosyida, mengungkapkan sejumlah kebiasaan tak biasa yang dilakukan suaminya selama masa tahanan menjelang kematiannya pada akhir pekan lalu. Ungkapan Rosyida tidak hanya menambah dimensi humanis pada sosok Yai Mim, yang selama ini dikenal lewat aktivitasnya di dunia musik, melainkan juga menyoroti sikap optimis dan ceria sang mantan musisi meski berada dalam kondisi paling sulit.
Menurut keterangan Rosyida, Yai Mim menghabiskan waktunya di dalam rutan dengan rutinitas yang cukup terstruktur. Ia bangun lebih awal dari jam 05.00, lalu melakukan sholat subuh bersama sesama narapidana. Setelah itu, Yai Mim rutin menulis lirik lagu di buku catatan kecil yang selalu dibawanya. “Dia selalu menuliskan kata‑kata yang mengalir dari hati, meski hanya untuk dirinya sendiri,” ujar Rosyida, sambil mengingat kembali momen-momen di balik jeritan hati sang suami yang sering terdengar di sela‑sela hari.
Di luar kegiatan religius dan kreatif, Yai Mim juga dikenal mengadakan “kelas kebugaran” kecil di dalam sel. Ia memimpin latihan ringan, seperti peregangan dan push‑up, kepada narapidana lain yang ingin bergabung. “Dia selalu berkata, ‘Kita tetap harus kuat, baik secara fisik maupun mental,'” kata Rosyida. Kebiasaan tersebut tampaknya menjadi salah satu cara Yai Mim menjaga semangatnya tetap tinggi, meski berada dalam lingkungan yang keras.
Selain aktivitas fisik, Yai Mim memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan sederhana secara berulang. Setiap hari, ia meminta porsi tambahan nasi dan sayur, kemudian menghabiskannya bersama buah pisang yang dibagikan oleh seorang narapidana lain. “Dia selalu menyiapkan piringnya dengan rapi, seolah‑olah sedang menyajikan hidangan di atas panggung,” selaku istri menambahkan dengan senyum pahit. Kebiasaan ini menjadi bahan perbincangan di antara narapidana lain, yang menganggap Yai Mim sebagai sosok yang selalu mengedepankan kebersamaan.
Sikap ceria Yai Mim menjadi sorotan utama dalam beberapa hari terakhirnya. Rosyida mengungkapkan, suaminya sering mengeluarkan lelucon ringan, menertawakan situasi, dan bahkan mengajak teman‑teman narapidana bernyanyi bersama. “Dia menyanyikan lagu‑lagu lama yang pernah dipopulerkannya, namun dengan lirik yang disesuaikan dengan kondisi kami di sini,” jelas Rosyida. Kegiatan bernyanyi ini, menurutnya, berhasil mencairkan suasana tegang di dalam rutan.
Namun, di balik keceriaan itu, terdapat permintaan tak biasa yang disampaikan Yai Mim kepada Rosyida menjelang kematiannya. Ia meminta agar Rosyida tidak mengurungkan niat melanjutkan karier musiknya, melainkan menghidupkan kembali semangat lagu‑lagu perjuangan yang pernah dibawanya. “Dia ingin saya tetap menyuarakan kebenaran lewat musik, meski dia tak lagi ada di sini,” kata Rosyida dengan mata berkaca‑kaca.
Permintaan tersebut ternyata memiliki makna yang dalam. Sejak penangkapan Yai Mim terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan narkoba, ia mengalami tekanan mental yang berat. Namun, melalui kebiasaan menulis lirik, bernyanyi, dan mengajak sesama narapidana berolahraga, ia berusaha mengubah rasa sakit menjadi energi positif. Rosyida menambahkan, kini ia memahami alasan di balik semua kebiasaan tersebut: “Dia ingin menunjukkan bahwa dalam keadaan paling kelam, masih ada cahaya harapan yang bisa kita ciptakan bersama.”
Kematian Yai Mim pada 13 April 2024 di Rutan Polresta Malang memicu keprihatinan luas, tidak hanya di kalangan penggemar musik, tetapi juga di antara aktivis hak asasi manusia yang menyoroti kondisi penahanan. Pihak kepolisian belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab pasti kematian tersebut, namun dugaan penyebab alami atau komplikasi penyakit kronis sedang diselidiki.
Dalam penutup, warisan Yai Mim tidak hanya terletak pada karya musiknya, melainkan juga pada jejak kebiasaan dan sikap hidup yang ditunjukkannya di dalam penjara. Kebiasaan menulis, berolahraga, dan menyanyikan lagu dengan riang menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang tentang pentingnya mempertahankan semangat di tengah kesulitan. Rosyida berjanji akan melanjutkan perjuangan suaminya, baik melalui musik maupun dengan menyebarkan kisah kebiasaan uniknya yang kini menjadi inspirasi bagi banyak kalangan.









