BERITA

Makna Malam 1 Suro dan Tradisi Grebeg Suro dalam Menyambut Tahun Baru Islam

×

Makna Malam 1 Suro dan Tradisi Grebeg Suro dalam Menyambut Tahun Baru Islam

Share this article
Makna Malam 1 Suro dan Tradisi Grebeg Suro dalam Menyambut Tahun Baru Islam
Makna Malam 1 Suro dan Tradisi Grebeg Suro dalam Menyambut Tahun Baru Islam

GemaWarta – 15 Juni 2026 | Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa yang sarat makna spiritual, biasanya diisi dengan doa, tirakatan, dan kegiatan budaya. Pada tahun 2026, Malam 1 Suro jatuh pada Selasa malam, 16 Juni 2026, bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H.

Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab pusaka dalam rangkaian tradisi Grebeg Suro. Kirab diawali dari kawasan Kota Lama Setono, Kecamatan Jenangan, menuju Paseban Alun-Alun Ponorogo dengan membawa sejumlah pusaka peninggalan Batarakathong yang menjadi simbol sejarah berdirinya Kabupaten Ponorogo.

🔖 Baca juga:
Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Tangani Parkir Semrawut di Jalan Mayjen Sutoyo Cawang

Sejumlah pusaka yang dikirab antara lain Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Cinde Puspita, Tombak Kyai Pamong Among Geni, serta Tombak Kyai Brama Geni. Setelah tiba di Paseban Alun-Alun, pusaka-pusaka tersebut menjalani prosesi jamasan atau penyucian menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber mata air sebagai bagian dari tradisi Grebeg Suro yang rutin digelar setiap tahun.

Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan kirab dan jamasan pusaka merupakan upaya melestarikan budaya warisan leluhur sekaligus momentum doa bersama menyambut tahun baru Hijriah. "Selain menguri-uri budaya warisan leluhur, kegiatan ini menjadi sarana berdoa agar Ponorogo diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan kemajuan," katanya.

🔖 Baca juga:
Pasar Indonesia Terpuruk, Singapura Jadi Sorotan

Menurut Lisdyarita, kirab pusaka memiliki nilai historis karena merepresentasikan perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari kawasan Kota Lama Setono menuju pusat pemerintahan yang kini berada di kawasan kota modern. Ia mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kirab tahun ini yang dinilai menunjukkan kuatnya kepedulian warga terhadap pelestarian budaya daerah.

Sementara itu, di Magelang, Gus Yusuf mengajak masyarakat untuk memaknai Muharram sebagai momentum introspeksi, bukan ketakutan. Ia menekankan bahwa bulan Muharram semestinya menjadi momentum introspeksi diri dan meningkatkan ibadah, bukan justru dikaitkan dengan ketakutan mistis.

🔖 Baca juga:
Jadwal Sholat Surabaya Hari Ini: Panduan Tepat Waktu untuk Umat Islam

Kegiatan tahunan yang memadukan doa bersama dan kenduri ini juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Dengan demikian, Malam 1 Suro dan tradisi Grebeg Suro merupakan momen penting dalam menyambut Tahun Baru Islam dan melestarikan budaya warisan leluhur.

Kesimpulan, Malam 1 Suro dan tradisi Grebeg Suro merupakan bagian penting dari kebudayaan Jawa yang sarat makna spiritual dan historis. Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat dapat mempererat hubungan antarmasyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya warisan leluhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *