GemaWarta – 27 Juli 2026 | Nicaragua, negara kedua termiskin di belahan barat setelah Haiti, tengah terjerat dalam cengkeraman otoritarianisme di bawah kepemimpinan Presiden Daniel Ortega. Ortega, yang telah menjabat selama hampir dua dekade, baru-baru ini menyatakan bahwa “tidak akan ada pemilu lagi” di negara tersebut. Deklarasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional dan memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ortega, yang berusia 80 tahun, telah memegang kekuasaan dengan kukuh sejak mengambil alih jabatan presiden. Ia dikenal karena tindakannya yang kontroversial, termasuk penghapusan batas masa jabatan, penangkapan lawan-lawan politik, dan penutupan gereja, universitas, organisasi nirlaba, dan kantor berita. Langkah-langkah ini semakin memperkuat cengkeraman otoriterannya atas Nicaragua.
Dalam sebuah pernyataan, Sekretaris Jenderal PBB, Volker Türk, menyerukan kepada pemerintah Nicaragua untuk mengungkapkan nasib, keberadaan, dan kondisi Uskup Abelardo Mata, yang telah menghilang secara paksa sejak akhir Juni. Türk juga menyerukan pembebasan semua individu yang ditahan secara sewenang-wenang dan memastikan bahwa semua orang yang ditahan diperlakukan dengan kemanusiaan dan martabat sesuai dengan kewajiban Nicaragua di bawah hukum hak asasi manusia internasional.
Sementara itu, Pemerintah Dominika telah memanggil kembali duta besarnya dari Nicaragua sebagai bentuk protes atas pernyataan Ortega tentang penghapusan pemilu. Keputusan ini diambil setelah Ortega menyatakan bahwa Nicaragua tidak akan mengadakan pemilu lagi, sebuah pernyataan yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan komitmen yang telah ditetapkan dalam sistem antar-Amerika.
Masyarakat internasional dan organisasi hak asasi manusia terus memantau situasi di Nicaragua dengan ketat, menyerukan agar pemerintah Ortega menghormati hak-hak dasar warga negara dan memulihkan proses demokratis di negara tersebut. Dalam menghadapi tekanan internasional yang meningkat, Ortega tetap tegar dalam posisinya, memperburuk ketegangan antara pemerintah Nicaragua dan masyarakat internasional.
Di tengah ketegangan ini, rakyat Nicaragua terus berjuang untuk memperoleh hak-hak dasar mereka dan membangun masa depan yang lebih cerah. Mereka berharap bahwa tekanan internasional dan dukungan dari komunitas global dapat membantu memulihkan demokrasi dan kebebasan di negara mereka.











