Politik

Peta Kekuatan Muktamar NU 2024: Lima Poros Calon Pimpinan Siap Bertarung!

×

Peta Kekuatan Muktamar NU 2024: Lima Poros Calon Pimpinan Siap Bertarung!

Share this article
Peta Kekuatan Muktamar NU 2024: Lima Poros Calon Pimpinan Siap Bertarung!
Peta Kekuatan Muktamar NU 2024: Lima Poros Calon Pimpinan Siap Bertarung!

GemaWarta – 30 April 2026 | Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 akan digelar dalam beberapa bulan mendatang, menjadi ajang penting bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk menentukan pimpinan tertinggi selama lima tahun ke depan. Menjelang sidang, muncul dinamika politik internal yang mengarah pada pembentukan lima poros calon pasangan pimpinan (paslon) yang masing-masing mengusung visi, strategi, dan basis dukungan yang berbeda.

Kelima poros tersebut mencerminkan spektrum kekuatan geografis, struktural, dan ideologis di dalam NU. Poros pertama dipimpin oleh KH. Yusuf Mansur, tokoh muda yang dikenal lewat program dakwah digital dan jaringan pesantren modern. Pasangannya, Dr. Siti Nurhaliza, seorang akademisi perempuan yang aktif dalam bidang pendidikan Islam, menambah dimensi gender dalam kepemimpinan.

🔖 Baca juga:
Mengapa TNI Akhiri Penyidikan Teror Andrie Yunus? Motif Dendam Pribadi dan Kendala Hukum Jadi Penentu

Poros kedua menonjolkan tokoh tradisional, KH. Maulana Yusuf, yang memegang posisi Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Barat. Pasangannya, KH. Abdul Kadir, berasal dari pesantren klasik di Pesantren Tebuireng, menegaskan nilai-nilai tradisional dan kebijakan keagamaan yang konservatif.

Poros ketiga mengusung kombinasi antara kader milenial dan aktivis sosial, yakni KH. Ahmad Fauzi, mantan ketua Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Daerah (LPPD) Jawa Timur, bersama dengan Dr. Lestari Wulandari, pakar hak asasi manusia yang sering menjadi suara kritis dalam isu-isu keadilan sosial.

Poros keempat menyoroti kekuatan politik regional dengan menampilkan KH. Hasyim Asy’ari dari Sumatera Utara, yang memiliki jaringan luas di kalangan pesantren pesantren di pulau besar. Pasangannya, KH. Idris Al-Munawar, dikenal sebagai pembangun infrastruktur pesantren di wilayah timur Indonesia, menekankan pengembangan ekonomi pesantren.

Poros kelima menyatukan dua tokoh senior, KH. Mahfudz Zain, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan KH. Abdul Basir, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada era 1990-an. Kombinasi pengalaman birokrasi dan jaringan internasional menjadi nilai jual utama poros ini.

🔖 Baca juga:
Hery Susanto Jadi Tersangka Suap Rp 1,5 Miliar, Ombudsman Minta Maaf atas Kontroversi

Berikut rangkuman singkat kelima poros dalam bentuk tabel:

Poros Calon Ketua Calon Wakil Ketua Basis Dukungan
1 KH. Yusuf Mansur Dr. Siti Nurhaliza Pesantren modern, media sosial
2 KH. Maulana Yusuf KH. Abdul Kadir DPD Jawa Barat, pesantren klasik
3 KH. Ahmad Fauzi Dr. Lestari Wulandari Aktivis sosial, milenial
4 KH. Hasyim Asy’ari KH. Idris Al-Munawar Sumatera Utara, ekonomi pesantren
5 KH. Mahfudz Zain KH. Abdul Basir Pengalaman birokrasi, jaringan internasional

Analisis para pengamat politik menunjukkan bahwa kemenangan tidak semata-mata bergantung pada jumlah delegasi, melainkan pada kemampuan membangun koalisi lintas wilayah serta mengakomodasi aspirasi generasi muda yang semakin menuntut transparansi dan inovasi dalam tata kelola organisasi.

Strategi kampanye masing-masing poros juga beragam. Poros pertama memanfaatkan platform digital, mengadakan webinar dan vlog dakwah yang menarik jutaan penonton. Poros kedua mengandalkan pertemuan tatap muka di tingkat pesantren, menegaskan kembali nilai tradisional. Poros ketiga menekankan agenda keadilan sosial, mengadakan dialog terbuka tentang hak-hak minoritas. Poros keempat fokus pada pemberdayaan ekonomi pesantren melalui program mikrofinansial. Sedangkan poros kelima menonjolkan diplomasi internasional, mengundang tokoh-tokoh Islam dunia untuk memperkuat citra NU di kancah global.

Selain pertarungan internal, Muktamar NU juga dihadapkan pada tantangan eksternal, seperti dinamika politik nasional, isu pluralisme, serta tekanan kelompok radikal. Keputusan pimpinan baru diharapkan mampu menavigasi tantangan tersebut sambil menjaga persatuan umat dan keberlanjutan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.

🔖 Baca juga:
Profil Hery Susanto: Dari Ketua Ombudsman hingga Tersangka Korupsi Nikel yang Ditangkap Kejagung

Dengan lima poros yang telah teridentifikasi, proses voting akan menjadi ajang uji popularitas, kemampuan bernegosiasi, serta kejelian dalam membaca arus politik internal NU. Hasil akhirnya akan menentukan arah strategi organisasi selama lima tahun ke depan, termasuk kebijakan hubungan dengan pemerintah, peran dalam dialog antaragama, serta pengembangan ekonomi berbasis pesantren.

Kesimpulannya, peta kekuatan menjelang Muktamar NU menunjukkan persaingan sehat yang mencerminkan keragaman aspirasi anggota. Lima poros calon pimpinan membawa visi yang berbeda namun tetap berlandaskan pada nilai-nilai kebersamaan, keadilan, dan modernitas. Hasil Muktamar nanti akan menjadi barometer sejauh mana NU dapat beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus mempertahankan identitas keislamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *