GemaWarta – 29 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal Iran yang diajukan pada pertemuan internal Gedung Putih pada Senin, 27 April 2026. Menurut pejabat dalam lingkaran dalam yang tidak disebutkan namanya, Trump menilai bahwa usulan tersebut menunda pembahasan isu nuklir Iran padahal Washington menganggapnya sebagai prioritas utama sejak awal negosiasi.
Isi utama proposal Iran
Proposal Iran menitikberatkan pada tiga tahapan. Tahap pertama menuntut penghentian semua operasi militer dan jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan kembali. Selanjutnya, Iran meminta pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran serta pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Tehran. Hanya setelah kedua langkah tersebut selesai, baru dibahas program nuklir, termasuk hak Iran memperkaya uranium untuk keperluan sipil.
Pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa pendekatan bertahap ini tidak sejalan dengan garis merah Washington, yang mengharuskan isu nuklir dibahas sejak awal. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menambahkan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan menolak setiap kompromi yang menunda pembahasan nuklir.
Pembatalan misi ke Pakistan
Kebuntuan diplomatik berujung pada keputusan Trump untuk membatalkan misi khusus utusan Amerika Serikat ke Islamabad yang dijadwalkan akhir pekan lalu. Utusan tersebut, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, dipersiapkan untuk berkoordinasi dengan mediator Pakistan dalam rangka memfasilitasi pembicaraan damai. Pembatalan tersebut menandai eskalasi ketegangan, mengingat Pakistan sebelumnya menjadi perantara penting bagi dialog antara Washington dan Tehran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melakukan perjalanan diplomatik ke Moskow, Oman, dan kembali ke Pakistan untuk mencari dukungan internasional. Pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow menghasilkan pernyataan dukungan terhadap posisi Iran dalam negosiasi, meski tidak ada jaminan konkret mengenai penangguhan program nuklir.
Dampak pada pasar energi
Kebuntuan ini langsung memengaruhi pasar energi global. Pada perdagangan awal Asia Selasa, 28 April 2026, harga minyak mentah naik karena kekhawatiran atas gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz. Analis pasar, Fawad Razaqzada, mencatat bahwa aliran minyak kini terbatas, dengan hanya beberapa kapal tanker yang berhasil menembus selat dibandingkan rata-rata harian sebelum konflik.
Data pelacakan menunjukkan bahwa enam kapal tanker bermuatan minyak Iran dipaksa kembali ke pelabuhan domestik, sementara hanya tujuh kapal berhasil melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah rata-rata 125‑140 kapal per hari sebelum perang. Kondisi ini memperparah tekanan inflasi dan menambah beban ekonomi bagi negara‑negara importir energi.
Secara keseluruhan, ketidakpuasan Trump terhadap proposal Iran menandai titik kritis dalam upaya diplomasi. Sementara Washington menegaskan bahwa isu nuklir tidak dapat ditunda, Iran tetap berpegang pada pendekatan bertahap yang menekankan kedaulatan wilayah dan kontrol atas jalur pelayaran penting. Tanpa adanya titik temu, prospek perdamaian tampak semakin jauh, sementara dampak ekonomi dan kemanusiaan terus meluas.











