GemaWarta – 27 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari dua indeks acuan utama, LQ45 dan IDX80, pada hari Senin. Keputusan tersebut diambil karena kedua emiten tidak lagi memenuhi kriteria konsentrasi kepemilikan saham tinggi (high shareholding concentration/HSC) yang kini menjadi fokus BEI untuk meminimalkan risiko pasar.
Saat pengumuman, kedua saham justru mencatatkan pergerakan positif. BREN naik 2,60% atau setara 120 poin ke level Rp4.740 per lembar, sementara DSSA menguat 2,48% atau 50 poin menjadi Rp2.070. Kapitalisasi pasar BREN tercatat Rp647,52 triliun, sedangkan DSSA berada pada Rp396,83 triliun. Data harga tersebut dirangkum dalam tabel berikut:
| Saham | Harga | Perubahan | Kapitalisasi |
|---|---|---|---|
| BREN | Rp4.740 | +2,60% | Rp647,52 triliun |
| DSSA | Rp2.070 | +2,48% | Rp396,83 triliun |
Meskipun hari itu ditandai dengan zona hijau, tekanan teknikal tetap menghantui. Dalam sepekan terakhir, BREN telah anjlok hampir 28% dan turun lebih dari 50% sejak awal tahun. DSSA mengalami penurunan 37% dalam seminggu terakhir dan hampir 49% sejak Januari 2026. Penurunan tersebut bukan disebabkan fundamental yang melemah, melainkan akibat mekanisme penyesuaian portofolio dana pasif.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menegaskan bahwa pengeluaran simultan dari dua indeks utama dapat memicu aksi jual paksa (forced selling) yang signifikan. Reksa dana berbasis indeks dan exchange traded fund (ETF) wajib menyesuaikan konstituen portofolio mereka sesuai perubahan indeks. “Keluarnya BREN dan DSSA dari dua indeks sekaligus akan memicu forced selling dari reksa dana berbasis indeks dan ETF yang wajib merotasi portofolionya,” ujar Wafi kepada media pada Senin sore.
Wafi menambahkan bahwa tekanan jual ini bersifat sementara dan lebih bersifat teknikal. “Tidak ada masalah fundamental yang mendasari penurunan harga, melainkan penerapan kriteria HSC. Setelah proses rebalancing selesai pada awal Mei 2026, tekanan jual diharapkan mereda,” kata ia.
Selain menyoroti risiko, analis KISI juga menyoroti peluang baru yang muncul dari pergantian konstituen indeks. Lima emiten baru – PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – masuk sebagai konstituen LQ45. Wafi menilai CUAN menarik karena eksposur komoditasnya yang kuat serta langkah korporasi untuk meningkatkan free float, sedangkan HRTA diperkirakan akan mendapat dorongan dari harga emas dunia yang tetap tinggi. WIFI menarik perhatian lewat sektor infrastruktur digital dan dukungan grup Hashim Djojohadikusumo.
Para investor disarankan untuk tetap waspada pada pergerakan teknikal jangka pendek, namun tidak perlu panik menjual BREN dan DSSA hanya karena mereka keluar dari indeks. Menurut Wafi, strategi yang lebih bijak adalah menunggu sampai proses rebalancing selesai dan menilai kembali fundamental masing-masing perusahaan. Jika fundamental tetap kuat, peluang pemulihan harga dapat muncul setelah tekanan jual berkurang.
Secara keseluruhan, pengeluaran BREN dan DSSA dari LQ45 serta IDX80 mencerminkan langkah BEI dalam memperkuat tata kelola pasar saham Indonesia. Meskipun ada risiko forced selling, dampaknya diproyeksikan bersifat sementara. Investor yang mengadopsi pendekatan jangka panjang dan memantau perkembangan rebalancing indeks akan berada pada posisi yang lebih baik dalam mengelola risiko dan memanfaatkan peluang baru yang muncul.











