GemaWarta – 06 Juni 2026 | Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA kembali menjadi sorotan pasar setelah mengalami pelemahan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, saham emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut masih bergerak di zona merah dan menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam dibandingkan posisi beberapa pekan sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.21 WIB, saham BBCA diperdagangkan di level Rp5.425 per saham. Sepanjang sesi perdagangan, saham ini sempat menyentuh level terendah Rp5.100 dan tertinggi Rp5.375.
Penurunan tersebut memperpanjang tren koreksi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tekanan jual yang masih berlangsung membuat harga saham BBCA terus bergerak menjauhi level psikologis Rp6.000 yang sebelumnya sempat menjadi area perdagangan utama saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Jika melihat pergerakan dalam beberapa pekan terakhir, pelemahan saham BBCA terbilang cukup dalam. Pada 25 Mei 2026, saham BBCA masih ditutup di level Rp6.100 per saham. Namun hanya dalam waktu sekitar dua pekan, harga saham tersebut merosot hingga ke level Rp5.425.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 11 persen dari posisi penutupan 25 Mei 2026. Berikut pergerakan harga penutupan BBCA dalam beberapa perdagangan terakhir:
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap saham BBCA belum sepenuhnya mereda. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, saham ini terus bergerak di bawah level penutupan sebelumnya.
Di tengah pelemahan harga, aktivitas transaksi saham BBCA justru terpantau sangat tinggi. Hingga pukul 11.21 WIB pada perdagangan Jumat, volume transaksi telah mencapai 297,16 juta saham. Nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp1,55 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 51.091 kali.
Tingginya aktivitas perdagangan ini menunjukkan bahwa saham BBCA masih menjadi salah satu emiten yang paling aktif diperdagangkan investor di Bursa Efek Indonesia. Sehari sebelumnya, pada 4 Juni 2026, volume transaksi BBCA bahkan mencapai lebih dari 550 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,96 triliun.
Angka tersebut menjadi salah satu volume perdagangan terbesar BBCA dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan membagikan dividen interim termin pertama pada kuartal II tahun buku 2026. Pembagian dividen interim tersebut mempertimbangkan soliditas kinerja perusahaan periode 1 Januari 2026 hingga 31 Maret 2026, serta komitmen Perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham.
Dalam penjelasan mata acara terkait penetapan penggunaan laba bersih Perseroan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026, direksi perseroan menginformasikan untuk tahun buku 2026, apabila kondisi keuangan memungkinkan, direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris dapat membagikan dividen interim sebanyak 3 kali pada 2026, yang direncanakan dibagikan per kuartal.
Koreksi tajam saham BBCA terbilang cukup dalam. Pada 25 Mei 2026, saham BBCA masih ditutup di level Rp6.100 per saham. Namun hanya dalam waktu sekitar dua pekan, harga saham tersebut merosot hingga ke level Rp5.425.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 11 persen dari posisi penutupan 25 Mei 2026. Berikut pergerakan harga penutupan BBCA dalam beberapa perdagangan terakhir:
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap saham BBCA belum sepenuhnya mereda. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, saham ini terus bergerak di bawah level penutupan sebelumnya.
Di tengah pelemahan harga, aktivitas transaksi saham BBCA justru terpantau sangat tinggi. Hingga pukul 11.21 WIB pada perdagangan Jumat, volume transaksi telah mencapai 297,16 juta saham. Nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp1,55 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 51.091 kali.
Tingginya aktivitas perdagangan ini menunjukkan bahwa saham BBCA masih menjadi salah satu emiten yang paling aktif diperdagangkan investor di Bursa Efek Indonesia. Sehari sebelumnya, pada 4 Juni 2026, volume transaksi BBCA bahkan mencapai lebih dari 550 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,96 triliun.
Angka tersebut menjadi salah satu volume perdagangan terbesar BBCA dalam beberapa waktu terakhir.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali terperosok ke level terendah dalam lima tahun terakhir setelah dihantam aksi jual investor asing secara masif sepanjang 2026.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), saham BBCA anjlok 6,45 persen atau turun 350 poin ke level Rp5.075 per saham. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terendah dalam 52 pekan dan menyeret kapitalisasi pasar perseroan menjadi Rp619,36 triliun.
Sementara itu, saham BBRI ditutup melemah 2,49 persen ke level Rp2.740 per saham. Harga saham bank pelat merah tersebut bahkan sempat menyentuh Rp2.730 pada perdagangan intraday, yang juga menjadi titik terendah dalam setahun terakhir.
Koreksi tajam kedua saham perbankan terbesar di Indonesia itu mempertegas sentimen negatif yang masih membayangi pasar modal domestik. Sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), BBCA telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya, sedangkan BBRI juga mencatat pelemahan signifikan di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan likuiditas pasar.
Jika dibandingkan dengan posisi lima tahun lalu, harga kedua saham tersebut kini telah kembali ke level yang pernah tercatat pada 2021. Kondisi ini menjadikan BBCA dan BBRI sebagai dua emiten perbankan besar yang mengalami erosi nilai paling dalam akibat gelombang keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan investor asing menjadi faktor utama di balik tekanan tersebut. Sepanjang 2026, saham BBCA mencatatkan aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp31,34 triliun. Adapun BBRI membukukan net sell asing sebesar Rp9,57 triliun.
Sejumlah analis melihat koreksi yang sangat dalam tersebut mulai membuka ruang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Dengan valuasi yang kini jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya, saham-saham bank besar dinilai mulai memasuki area yang menarik, terutama bagi investor yang percaya fundamental sektor perbankan nasional masih relatif kuat.
Namun demikian, peluang rebound masih akan sangat bergantung pada kembalinya aliran dana asing dan perbaikan sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Kesimpulan, saham BBCA dan BBRI masih menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam dibandingkan posisi beberapa pekan sebelumnya. Namun, sejumlah analis melihat koreksi yang sangat dalam tersebut mulai membuka ruang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.











