GemaWarta – 20 Juni 2026 | Starbucks Korea menghadapi kesulitan setelah meluncurkan promosi yang dinilai tidak sensitif terhadap tragedi Gwangju 1980. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern Korea Selatan ketika militer menindak keras demonstran prodemokrasi.
Promosi yang diluncurkan pada 18 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan tragedi Gwangju, menawarkan diskon untuk produk tumbler seri “Tank”. Namun, penggunaan kata “tank” memicu reaksi negatif karena dianggap mengingatkan publik pada kendaraan lapis baja yang digunakan militer dalam penumpasan demonstrasi di Gwangju.
Kontroversi semakin membesar karena slogan promosi “thwack on the desk” dianggap mengingatkan publik pada kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987 akibat penyiksaan saat interogasi. Gelombang kritik muncul dari masyarakat dan berbagai kelompok sipil, sehingga Starbucks Korea memutuskan menutup lebih dari 2.000 gerainya secara serentak pada 22 Juni 2026.
Penutupan sementara ini dilakukan agar para pekerja dapat mengikuti sesi pembelajaran sejarah serta pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman terhadap isu-isu sosial dan historis di Korea Selatan. Keputusan tersebut berpotensi menyebabkan hilangnya pendapatan sekitar 2,1 miliar won atau setara 1,4 juta dolar AS.
Starbucks Korea menghadapi boikot pelanggan, perusakan produk merchandise, serta penghentian kerja sama dari sejumlah kementerian di Korea Selatan. Sebagai respons, seluruh materi promosi ditarik dalam hitungan jam dan direktur utama perusahaan diberhentikan pada hari yang sama.
Hasil penyelidikan internal menunjukkan tim pemasaran memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperoleh usulan slogan. Pengawasan dinilai bermasalah karena beberapa manajer yang menyetujui kampanye tersebut diketahui tak membuka lampiran surat elektronik yang memuat materi promosi secara lengkap.
Perusahaan menyatakan tak menemukan unsur kesengajaan dalam kasus tersebut. Namun, Kepolisian Seoul tetap menetapkan Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, serta mantan direktur utama Starbucks Korea sebagai tersangka pidana. Proses penyelidikan oleh kepolisian masih berlangsung.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, seluruh unsur perusahaan diwajibkan mengikuti program edukasi ulang. Staf kantor pusat Starbucks Korea bersama para eksekutif divisi E-Mart dijadwalkan menjalani pelatihan sejarah di pusat pelatihan internal grup. Ketua Shinsegae Chung beserta para CEO afiliasi lainnya mengikuti sesi terpisah.
Program tersebut melibatkan akademisi dari Universitas Sungkyunkwan. Seorang profesor sejarah akan memimpin kuliah mengenai berbagai peristiwa penting di Korea Selatan sejak era 1950-an. Selain itu, profesor sosiologi dari universitas yang sama memberikan materi mengenai pentingnya perusahaan mempertimbangkan isu sejarah, hak asasi manusia, gender, serta tenaga kerja dalam strategi bisnis.
Untuk mencegah kejadian serupa, manajemen memperkenalkan daftar periksa sensitivitas sosial baru dalam proses persetujuan pemasaran. Sistem tersebut mencakup pengawasan terhadap isu politik, gender, militer, bencana, tanggal peringatan bersejarah, kekerasan, hingga ekspresi kebencian.
Selama pelatihan berlangsung, hanya sebagian kecil gerai di bandara yang tetap beroperasi. Gelombang kritik direspons dengan permintaan maaf terbuka dari jajaran petinggi perusahaan. Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasional, Chung menyampaikan permohonan maaf tertulis dan membungkuk tiga kali sebagai bentuk penyesalan.
Kesimpulan, insiden ini menunjukkan bahwa perusahaan harus lebih berhati-hati dalam membuat promosi yang sensitif terhadap sejarah dan isu sosial. Perusahaan harus mempertimbangkan dampak promosi terhadap masyarakat dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.











