GemaWarta – 10 Mei 2026 | Pemerintah Indonesia berencana mengerahkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus melemah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa BSF adalah dana cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat terjadi tekanan masif.
Menurut Purbaya, sumber dana BSF berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) milik pemerintah, yang juga akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia. Selain itu, pemerintah juga melibatkan special mission vehicle (SMV) atau lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk membantu menjaga stabilitas harga bond.
Ekonom M Rizal Taufikurahman menilai pengaktifan kembali BSF oleh pemerintah sebaiknya diposisikan sebagai bantalan stabilisasi jangka pendek untuk menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN). Ia mengingatkan efektivitas BSF akan terbatas jika tekanan berasal dari faktor fundamental, seperti defisit fiskal yang melebar, beban bunga utang yang meningkat, rupiah yang terus melemah, atau kepercayaan investor yang turun.
Rizal juga mengingatkan adanya risiko moral hazard dan distorsi pasar yang perlu dijaga agar investor tidak bergantung pada intervensi pemerintah. Ia menyarankan bahwa fondasi utamanya tetap memperkuat fiskal, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan serta basis investor domestik.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga memandang pembentukan BSF merupakan langkah positif untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara, terutama saat kondisi pasar keuangan bergejolak dan kapasitas intervensi Bank Indonesia (BI) terbatas.
Myrdal menilai BSF efektif digunakan saat terjadi turbulensi kuat di pasar keuangan sehingga pemerintah dapat meminimalkan dampak aksi jual investor di pasar obligasi dan menjaga stabilitas yield SBN. Namun, ia mengingatkan efektivitas BSF sangat bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dan ketersediaan dana, baik dari saldo anggaran lebih (SAL) maupun sumber lainnya.
Kesimpulan, pemerintah Indonesia berencana mengerahkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus melemah. Sumber dana BSF berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) milik pemerintah, yang juga akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia. Namun, efektivitas BSF akan terbatas jika tekanan berasal dari faktor fundamental, dan perlu dijaga agar investor tidak bergantung pada intervensi pemerintah.











