GemaWarta – 08 Juli 2026 | Tarif listrik menjadi perhatian utama bagi masyarakat, terutama ketika tagihan listrik membengkak. Penyebabnya bisa bervariasi, mulai dari kebiasaan sepele seperti menyalakan lampu terus-menerus, menggunakan AC sepanjang hari, hingga memakai banyak alat elektronik bersamaan. Perangkat dalam mode standby dan charger yang tetap terhubung meski tidak digunakan juga tetap mengonsumsi daya dan berkontribusi pada kenaikan tagihan listrik bulanan.
Kulkas yang tidak dirawat, penggunaan mesin cuci terlalu sering, dan pompa air bocor membuat konsumsi energi meningkat, sehingga penting menjaga efisiensi peralatan rumah tangga. Selain itu, ada kebiasaan lainnya yang menurut kamu sepele tapi sebenarnya bisa menjadi penyebab tagihan listrik membengkak. Lantas, apa saja, ya?
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dalam ekspor listrik, terutama ke Singapura. Dalam Leaders’ Retreat Indonesia-Singapura, kedua negara menyepakati penyusunan peta jalan perdagangan listrik lintas batas. Kesepakatan tersebut bernilai penting karena menyangkut rencana Singapura mengimpor 6 gigawatt (GW) listrik rendah karbon pada 2035, sekitar sepertiga kebutuhan listrik nasionalnya. Lebih dari separuhnya, atau sekitar 3,4 GW, diharapkan berasal dari Indonesia.
Singapura menargetkan listrik impor dari proyek-proyek tersebut mulai mengalir secara bertahap pada 2028. Sekarang, pekerjaan rumahnya bukan hanya menyelesaikan negosiasi dan membangun kabel bawah laut. Negara Merlion juga harus memastikan sistem kelistrikannya tidak tumbang ketika pasokan impor terganggu, salah satunya dengan menyiapkan pembangkit cadangan.
Kesimpulan, tarif listrik dan ekspor listrik merupakan dua isu yang saling terkait. Di satu sisi, masyarakat perlu menjaga efisiensi energi untuk mengurangi tagihan listrik. Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar dalam ekspor listrik, terutama ke Singapura. Dengan demikian, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan efisiensi energi dan memanfaatkan potensi ekspor listrik secara maksimal.











