GemaWarta – 14 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Konten kreator populer Steven Wongso kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan pendapat kontroversial tentang bahaya konsumsi martabak manis. Dalam video yang beredar luas di media sosial, Wongso menyoroti tingginya kadar gula pada adonan martabak dan menuduh para penjualnya “banyak dosa” karena mengabaikan kesehatan konsumen. Pernyataan tersebut memicu gelombang hujatan dari netizen yang menilai komentar Wongso berlebihan dan menyinggung para pedagang kecil.
Video tersebut menampilkan Wongso dengan nada tegas, mengingatkan penjual martabak agar lebih sadar akan kandungan gula berlebih dalam produk mereka. “Menurut keyakinan saya, semua penjual martabak manis itu banyak dosanya. Pak, bu, sadar gak? seberapa banyak gula yang ada di adonan bapak ibu?” ujarnya. Ia kemudian membandingkan penjual martabak dengan penjual narkoba, sebuah analogi yang membuat diskusi publik semakin memanas.
Reaksi publik tidak hanya datang dari konsumen, melainkan juga dari kalangan profesional kesehatan. Dr. Adam Prabata, seorang dokter dan edukator kesehatan, menanggapi pernyataan Wongso lewat akun X-nya. Namun, alih-alih mengkritik gula, Dr. Adam justru mengarahkan kritik kepada Wongso terkait penggunaan steroid anabolik yang pernah diakui oleh Wongso dalam konteks kebugaran.
“Izin mengingatkan juga mengenai efek bahaya dari steroid anabolik untuk membesarkan otot. Sebuah studi besar yang dipublikasikan tahun 2025 di jurnal Circulation melakukan follow-up selama 11 tahun terhadap lebih dari 1.000 pengguna steroid anabolik,” tulis Dr. Adam pada Sabtu, 11 April 2026. Ia melanjutkan, “Serangan jantung risikonya meningkat hingga 300 persen dibandingkan mereka yang nggak pakai steroid. Gangguan irama jantung meningkat risikonya 226 persen lebih tinggi. Hati-hati, bisa terjadi henti jantung mendadak yang berujung pada meninggal dunia akibat gangguan irama jantung.”
Balasan Dr. Adam memicu gelombang komentar sarkastik di media sosial. Seorang pengguna dengan inisial @Fath*** menulis, “Disuruh batasin gula sama orang yang pake steroid wkwkwk,” menyoroti kontradiksi antara dua bahaya kesehatan yang diangkat dalam satu rangkaian percakapan.
Kontroversi ini menimbulkan pertanyaan penting tentang tanggung jawab publik figur dalam menyebarkan informasi kesehatan. Di satu sisi, Wongso berusaha mengedukasi masyarakat mengenai risiko gula berlebih, yang memang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Di sisi lain, penggunaan steroid anabolik tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping yang jauh lebih fatal, termasuk hipertensi, kerusakan organ, dan gangguan irama jantung sebagaimana disebutkan dalam studi yang dirujuk Dr. Adam.
Menurut data Kementerian Kesehatan, konsumsi gula tambahan di Indonesia masih berada di atas ambang batas yang direkomendasikan WHO, yakni 10% dari total asupan kalori harian. Sementara itu, penyalahgunaan steroid anabolik, meskipun tidak sebanyak penggunaan gula, tetap menjadi masalah tersembunyi, terutama di kalangan atlet dan pecinta kebugaran yang mengincar penampilan fisik ideal.
Para ahli menekankan pentingnya edukasi yang berbasis fakta dan tidak mengandung serangan personal. “Kita harus memisahkan isu kesehatan makanan dengan isu penyalahgunaan obat. Kedua hal tersebut memerlukan pendekatan yang berbeda, namun keduanya sama pentingnya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Prof. Dr. Siti Rahma, pakar gizi Universitas Indonesia.
Dalam beberapa hari terakhir, Wongso belum memberikan klarifikasi resmi, namun akun media sosialnya menunjukkan bahwa ia akan mengadakan sesi tanya jawab langsung dengan para ahli gizi untuk membahas dampak gula pada kesehatan. Sementara itu, Dr. Adam menegaskan akan terus memantau penggunaan steroid di kalangan publik dan mendorong regulasi yang lebih ketat.
Kasus ini mencerminkan dinamika era digital di mana informasi kesehatan dapat tersebar cepat, namun kualitasnya sering kali dipertanyakan. Penting bagi masyarakat untuk selalu memverifikasi fakta melalui sumber terpercaya sebelum mengambil keputusan yang berpotensi memengaruhi kesehatan pribadi.
Kesimpulannya, baik gula berlebih dalam martabak manis maupun penyalahgunaan steroid anabolik merupakan ancaman serius bagi kesehatan. Edukasi yang tepat, didukung data ilmiah, dan komunikasi yang menghormati semua pihak menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan membangun kesadaran publik yang lebih baik.