GemaWarta – 07 Juli 2026 | Belakangan ini, biaya hidup masyarakat semakin meningkat. Perkembangan tersebut tak terlepas dari tren kenaikan inflasi, suku bunga acuan (BI Rate), hingga BBM non-subsidi. Kelas menengah pun menjadi kelompok paling terimpit oleh kondisi itu. Mereka tidak berhak menerima bantuan sosial layaknya kelompok kelas bawah, tetapi juga tidak sekuat kelas atas untuk menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin meningkat.
Kenaikan biaya hidup yang terjadi belakangan memang langsung menyasar ke ‘kantong’ kelas menengah. Kenaikan BI Rate yang mencapai 100 basis poin hanya dalam dua bulan terakhir misalnya, berpotensi mengerek berbagai bunga cicilan seperti kredit pemilikan rumah (KPR) hingga kredit kendaraan bermotor (KKB). Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 juga secara spesifik memberatkan kelas menengah.
Di sisi lain, upaya untuk meningkatkan akses pendidikan juga terus dilakukan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar) resmi meluncurkan Program Kartu Kobar Cerdas, sebagai upaya meningkatkan akses pendidikan sekaligus membantu meringankan beban biaya pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Program Kartu Kobar Cerdas merupakan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik baru jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Selain itu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) juga bergerak cepat mengejar target pembangunan 10.000 unit rumah tidak layak huni (RTLH), melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari pemerintah pusat. Untuk mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem, Pemprov NTB memadukan program tersebut dengan program daerah, Desa Berdaya Transformatif.
Namun, di balik upaya-upaya tersebut, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Puluhan ribu kursi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang kosong dari total 627.957 kursi tersedia semestinya menjadi bahan refleksi bersama. Ribuan calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos seleksi justru tidak melakukan daftar ulang. Angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Di balik statistik itu, tersimpan kisah puluhan ribu anak muda yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat, tetapi akhirnya harus mengubur impian mengenyam pendidikan tinggi.
Kesimpulan dari semua itu adalah bahwa desil masih menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan akses pendidikan dan kemiskinan. Upaya untuk meningkatkan akses pendidikan dan mengatasi kemiskinan harus terus dilakukan, dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan dapat tercapai kesetaraan dan keadilan dalam akses pendidikan dan pengentasan kemiskinan.











