GemaWarta – 02 Juni 2026 | Pertumbuhan kredit investasi di Jawa Timur masih menjadi tulang punggung pertumbuhan kredit perbankan secara nasional. Namun, tren pertumbuhan masif yang diraih belakangan ini berpotensi mulai melandai pada akhir tahun 2026. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit perbankan berhasil tumbuh 9,98% secara tahunan (year-on-year/yoy) per April 2026.
Capaian itu utamanya ditopang oleh pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 19,48% yoy, sementara kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing hanya tumbuh 6,04% yoy dan 6,13% yoy. Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menyebut, program pemerintah masih menjadi katalis utama yang menggerakkan pertumbuhan ini, seiring munculnya instrumen dan lembaga pembiayaan baru seperti Danantara dan Koperasi Merah Putih yang memulai operasional pada awal tahun ini.
Di samping itu, Rahma melihat penyaluran kredit untuk proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang ditargetkan mencapai 100 gw dan transisi energi hijau yang mulai masuk ke fase konstruksi masif di triwulan pertama juga memainkan peran. Pasalnya, secara karakteristik, proyek tersebut membutuhkan pembiayaan jangka panjang seperti kredit investasi.
Sementara dari sisi swasta, Rahma bilang pertumbuhannya masih terbatas. Itu tercermin dari terbatasnya pemanfaatan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan). Hingga April 2026 jumlahnya masih sebesar 22,57% dari plafon kredit tersedia.
Di bidang pendidikan, sebanyak 24.213 calon mahasiswa baru diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (SNBT-UTBK) 2026. Capaian tersebut meningkat 4.024 siswa atau 19,9 persen dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 20.189 siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan rasa syukur atas meningkatnya jumlah siswa Jawa Timur yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBT tahun ini. Menurutnya, peningkatan tersebut terjadi secara merata di 24 wilayah cabang dinas pendidikan (cabdindik) di Jawa Timur.
Perhutani, sebagai pemegang mandat operasional tunggal atas jutaan hektar hutan di Jawa, memikul prinsip berat triple-P: Planet, People, dan Prosperity/Profit. Namun, menyelaraskan ketiganya di tanah Jawa yang padat penduduk adalah seni tingkat tinggi.
Berdasarkan data makro, penduduk Indonesia di akhir 2025 melonjak hingga 286 juta jiwa, di mana hampir 58 persennya berjejal di Pulau Jawa. Imbasnya nyata: hutan dan kawasannya kian menyusut dan tekanan terhadap sumber daya alam meroket. Perhutani kerap dicap oleh pemerintah daerah sebagai “penghambat pembangunan” saat infrastruktur jalan atau industri terbentur di kawasan hijau.
Perubahan budaya organisasi yang radikal sedang terjadi di Perhutani. Dibawah sorotan tajam ruang akademik FISIP Universitas Airlangga dalam kuliah tamu Mata Kuliah Budaya Korporat, realitas dan beban moral institusi plat merah ini dikupas tuntas. Perhutani ditantang untuk bertransformasi penuh: dari sekadar “mandor kayu” yang berorientasi komoditas menjadi “arsitek sosial” yang memandang hutan sebagai common resource (aset bersama) milik publik dan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.
Langkah pertama transformasi ini justru harus dimulai dengan membersihkan “hutan” internal mereka sendiri. Selama puluhan tahun, tubuh Perhutani juga Kementerian Kehutanan, didera oleh dikotomi budaya korporat yang “tidak sehat” berupa rivalitas terselubung antara lulusan kehutanan IPB dan UGM.
Pertumbuhan kredit investasi dan pendidikan di Jawa Timur merupakan dua aspek yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Dengan meningkatnya pertumbuhan kredit investasi, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru. Sementara itu, pendidikan yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan.











