GemaWarta – 02 Agustus 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, di balik niat baik tersebut, program ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan implementasi.
Harga daging ayam broiler di beberapa pasar tradisional Kota Probolinggo telah mengalami kenaikan signifikan setelah berakhirnya masa libur sekolah dan kembali berjalannya Program MBG. Harga ayam broiler telah mencapai Rp38.000 per kilogram, meningkat dari sekitar Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram saat libur sekolah.
Para pedagang menyebut harga mulai merangkak naik sejak dimulainya tahun ajaran baru pada 13 Juli 2026. Kenaikan berlangsung secara bertahap, yakni sekitar Rp500 hingga Rp1.500 per kilogram setiap hari. Pedagang menduga lonjakan harga dipicu meningkatnya permintaan setelah Program MBG kembali berjalan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan komitmennya untuk menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan Program MBG. Ia menekankan bahwa kepala dapur memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin.
Program MBG juga dihadapkan pada tantangan tata kelola. Skala pelaksanaannya sangat besar, melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, penyedia bahan pangan, pelaku UMKM, petani, tenaga distribusi, hingga masyarakat sebagai penerima manfaat. Banyaknya aktor yang terlibat membuat tata kelola menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibandingkan besarnya anggaran yang dialokasikan.
Dalam upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, Program MBG harus dijalankan secara efektif, efisien, transparan, dan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat. Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas desain kebijakan, tetapi juga oleh kualitas implementasinya.
Untuk meningkatkan efektivitas Program MBG, pemerintah perlu memperhatikan beberapa aspek, seperti ketersediaan bahan pangan, kualitas bahan pangan, dan pengelolaan program. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa program ini dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi daerah, dengan memprioritaskan bahan pangan lokal dan melibatkan petani, pedagang, dan UMKM dalam proses pengadaan bahan pangan.
Dalam beberapa kasus, Program MBG juga dihadapkan pada masalah keamanan pangan. Beberapa kasus keracunan makanan telah dilaporkan, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program ini. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan aspek keamanan pangan dan memastikan bahwa bahan pangan yang digunakan dalam program ini aman untuk dikonsumsi.
Kesimpulan, Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun, program ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan implementasi, seperti kenaikan harga bahan pangan, tantangan tata kelola, dan masalah keamanan pangan. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhatikan beberapa aspek, seperti ketersediaan bahan pangan, kualitas bahan pangan, dan pengelolaan program, untuk meningkatkan efektivitas Program MBG.











