GemaWarta – 17 April 2026 | Nottingham Forest kembali menorehkan sejarah Eropa dengan mengalahkan Porto 1‑0 pada leg kedua perempat final Liga Europa, memperpanjang keunggulan agregat menjadi 2‑1. Gol tunggal yang menentukan datang dari Morgan Gibbs‑White pada menit ke‑12, menjadikannya pahlawan malam itu dan mengakhiri penantian 42 tahun sejak klub menggapai semifinal pada era keemasan Brian Clough.
Pertandingan yang berlangsung di City Ground, Nottingham, dimulai dengan tekanan intens dari kedua tim. Pada menit kedelapan, bek Porto Jan Bednarek menerima kartu merah setelah melakukan tekel berbahaya terhadap Chris Wood, memberikan Forest keunggulan numerik yang dimanfaatkan dengan cepat. Empat menit kemudian, Gibbs‑White menembakkan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti yang melengkung tajam ke sudut kanan gawang Diogo Costa setelah memantul dari badan Pablo Rosario. Gol tersebut tidak hanya menambah angka, tetapi juga menyuntikkan semangat solidaritas; pemain asal Inggris itu mengangkat jersey bertuliskan “Family First” sebagai penghormatan kepada Elliot Anderson yang tengah berduka akibat meninggalnya ibunya sesaat sebelum kickoff.
Keberhasilan Forest tidak lepas dari tantangan fisik. Chris Wood harus keluar lebih awal karena cedera lutut, sementara Callum Hudson‑Odoi dan bek andalan Murillo juga terpaksa meninggalkan lapangan. Kondisi cedera menambah beban pada skuad Vitor Pereira, yang harus menyeimbangkan ambisi Eropa dengan perjuangan di Premier League. Meskipun begitu, Forest berhasil menahan serangan balik Porto. William Gomes hampir menyamakan kedudukan dengan tembakan ke mistar, dan Alan Varela mengancam lewat tembakan jarak jauh, namun pertahanan tuan rumah tetap kokoh.
Susunan pemain Forest pada pertandingan ini terdiri dari: Ortega; Aina, Jair Cunha, Murillo (digantikan Morato pada menit 72), Williams; Sangaré, Domínguez; Hutchinson (diganti Hudson‑Odoi pada menit 46, lalu Bakwa pada menit 72), Gibbs‑White, Ndoye (diganti Milenković pada menit 65); Wood (diganti Jesus pada menit 16). Sementara Porto menurunkan formasi: Diogo Costa; Alberto Costa (diganti Froholdt pada menit 46), Thiago Silva, Bednarek, Zaidu (diganti Francisco Moura pada menit 46); Fofana, Rosario, Gabriel Veiga (diganti Kiwior pada menit 46); William Gomes, Moffi (diganti Deniz Gül pada menit 66), Sainz (diganti Varela pada menit 46).
Keberhasilan ini menjadi momen emosional bagi seluruh elemen klub. Setelah mengalami pergantian empat manajer dalam satu musim — Nuno Espírito Santo, Ange Postecoglou, Sean Dyche, dan kini Vitor Pereira — Forest berhasil menyalurkan energi positif ke lapangan. Meskipun performa domestik masih tidak menentu dan tim berjuang menghindari zona degradasi, kemenangan di Eropa memberikan dorongan moral yang signifikan menjelang pertandingan krusial melawan Burnley dan Sunderland di Liga Premier.
Para pengamat menilai bahwa perjalanan Forest ke semifinal bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan investasi sekitar £180 juta pada pemain baru. Jika Forest berhasil melaju ke final melawan Aston Villa, mereka akan berhadapan dengan tim Inggris lain dalam laga semifinal ber-All‑English pertama dalam 42 tahun. Pemenang tie tersebut akan melaju ke Istanbul pada 20 Mei, dengan kesempatan meraih trofi Liga Europa sekaligus tiket Champions League musim depan.
Namun, tantangan domestik tetap mengancam. Jika hasil di laga Premier League melawan Burnley dan Sunderland tidak menguntungkan, posisi Forest dapat jatuh ke zona degradasi sebelum semifinal Eropa tiba. Vitor Pereira harus mengatur rotasi skuad, meminimalkan risiko cedera, dan memastikan pemain utama tetap fit untuk dua kompetisi sekaligus.
Secara keseluruhan, kemenangan melawan Porto menegaskan bahwa Nottingham Forest masih memiliki taji di level kontinental. Dengan semangat kebersamaan yang ditunjukkan oleh pemain dan staf, serta dukungan tak terbatas dari suporter, klub bertekad menulis babak baru dalam sejarahnya. Jika mereka dapat menyeimbangkan ambisi Eropa dengan perjuangan di Liga Premier, Forest tidak hanya akan kembali menjadi nama yang dihormati di benua, tetapi juga memperkuat posisi mereka di kancah domestik.









