OLAHRAGA

Piala Dunia 2026 dan 2030: Antara Kesuksesan Finansial dan Kontroversi

×

Piala Dunia 2026 dan 2030: Antara Kesuksesan Finansial dan Kontroversi

Share this article
Piala Dunia 2026 dan 2030: Antara Kesuksesan Finansial dan Kontroversi
Piala Dunia 2026 dan 2030: Antara Kesuksesan Finansial dan Kontroversi

GemaWarta – 23 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 telah mencatat sejarah sebagai edisi terbesar sepanjang masa dengan melibatkan 48 tim untuk pertama kalinya. Turnamen ini digelar di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Piala Dunia 2026 tidak hanya melahirkan juara baru, tetapi juga mencatat rekor besar di luar lapangan. FIFA diproyeksikan meraup keuntungan fantastis hingga 15 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp269 triliun.

Angka tersebut menjadi keuntungan terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia sekaligus melampaui target awal FIFA yang dipatok sebesar 11 miliar dolar AS. Kesuksesan finansial FIFA itu terjadi setelah Piala Dunia 2026 menggunakan format baru dengan jumlah peserta lebih besar. Sebanyak 48 negara ambil bagian dalam turnamen yang sebelumnya hanya diikuti 32 tim.

🔖 Baca juga:
Drama Menit Akhir! Bournemouth vs Leeds Berakhir 2-2, Longstaff Selamatkan Leeds

Selain jumlah peserta yang meningkat, faktor komersial juga menjadi penyumbang utama melonjaknya pendapatan FIFA. Salah satunya berasal dari penjualan tiket yang mengalami kenaikan signifikan. Pasar tiket sekunder menjadi salah satu sumber pemasukan besar bagi FIFA. Dalam sistem tersebut, FIFA mendapatkan komisi dari setiap transaksi yang terjadi, yakni 15 persen dari pihak pembeli dan 15 persen dari pihak penjual.

Kondisi tersebut membuat harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tinggi, terutama untuk pertandingan besar yang mempertemukan tim-tim elite dunia. Lonjakan keuntungan ini membuat FIFA semakin terbuka untuk memperbesar skala turnamen di masa mendatang. Salah satu wacana yang tengah dikaji adalah penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 negara.

Rencana tersebut diyakini dapat meningkatkan pemasukan FIFA secara signifikan. Namun, ekspansi turnamen juga memunculkan perdebatan karena berpotensi menambah beban kalender sepak bola internasional. Jika jumlah peserta bertambah, jumlah pertandingan otomatis meningkat. Hal ini dapat berdampak pada kondisi fisik pemain serta jadwal kompetisi klub yang semakin padat.

🔖 Baca juga:
Drama Menegangkan Cremonese vs Lazio: Noslin Ganda Gol Penentu Kemenangan Biancocelesti

Di sisi lain, asosiasi sepak bola dari berbagai negara kemungkinan besar akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari peningkatan pendapatan FIFA. Meski begitu, pembagian dana tersebut masih menunggu keputusan resmi. Piala Dunia 2030 sendiri akan menjadi edisi yang istimewa karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun penyelenggaraan turnamen tersebut.

Tiga negara, yakni Portugal, Spanyol, dan Maroko, ditetapkan sebagai tuan rumah utama. Sebagai bagian dari perayaan seabad Piala Dunia, FIFA juga akan menggelar masing-masing satu pertandingan di Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Uruguay dipilih karena menjadi tuan rumah edisi perdana Piala Dunia pada 1930 di Montevideo.

Argentina mendapat kehormatan sebagai finalis pada edisi pertama tersebut, sementara Paraguay dipilih karena menjadi markas Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL). Sementara itu, bos La Liga, Javier Tebas, melontarkan kritik pedas dan mendesak Gianni Infantino untuk segera mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA.

🔖 Baca juga:
Jadwal Bola Hari Ini: Pertandingan Internasional dan Liga Elite

Tebas menilai pria asal Swiss tersebut lebih memprioritaskan keuntungan finansial alias cuan ketimbang urusan perkembangan sepak bola. Tensi panas ini mencuat seiring berbagai kontroversi yang menyelimuti gelaran Piala Dunia 2026. Infantino dihujani kritik lantaran sejumlah kebijakan FIFA dianggap menabrak kaidah sepak bola.

Kritik terhadap Infantino kian menggema menyusul wacana penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim untuk edisi 2030. Langkah ini dipandang sebagai strategi FIFA untuk mendulang keuntungan lebih besar, terutama dari lonjakan penjualan tiket pertandingan. Melihat integritas FIFA yang dianggap jeblok pada Piala Dunia 2026, Javier Tebas pun menuntut pertanggungjawaban nyata.

Ia meminta Infantino segera meletakkan jabatannya demi kebaikan sepak bola dunia. Dengan demikian, Piala Dunia 2026 dan 2030 menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang bisnis dan politik. Kedua edisi Piala Dunia ini menunjukkan bahwa sepak bola dapat menjadi ajang untuk mencetak rekor keuntungan, tetapi juga dapat menjadi ajang untuk mencetak kontroversi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *