GemaWarta – 25 April 2026 | Uni Eropa resmi mengesahkan regulasi baru yang mewajibkan semua smartphone yang dijual di wilayahnya dilengkapi dengan baterai lepas pasang mulai Februari 2027. Kebijakan ini merupakan bagian dari inisiatif Right to Repair yang bertujuan mengurangi limbah elektronik dan memberikan konsumen hak lebih mudah memperbaiki perangkat mereka.
Menurut dokumen resmi yang dirilis pada April 2026, produsen harus merancang baterai yang dapat diganti tanpa alat khusus. Jika alat diperlukan, produsen wajib menyediakan alat kecil secara gratis dalam paket pembelian. Pengecualian hanya diberikan untuk perangkat medis dan produk yang dirancang untuk penggunaan bawah air.
Regulasi tidak hanya berlaku untuk ponsel, tetapi juga mencakup tablet, konsol game, kacamata pintar, sepeda listrik, serta mainan elektronik. Hal ini menandakan perubahan besar dalam desain perangkat elektronik global, mengingat banyak produsen mengadopsi standar produksi seragam untuk efisiensi.
- Smartphone (HP)
- Tablet
- Konsol game (mis. Nintendo Switch 2)
- Kacamata pintar
- Sepeda listrik
- Mainan elektronik
Beberapa produsen telah mempersiapkan diri. Apple, misalnya, mengklaim bahwa iPhone 15 yang diluncurkan sejak 2023 sudah memenuhi standar ketahanan baterai—yaitu mampu mempertahankan 80% kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian. Karena itu, iPhone 15 dan model berikutnya dapat masuk dalam kategori pengecualian.
Samsung diprediksi menjadi salah satu pelopor pertama di pasar Eropa dengan meluncurkan Galaxy S27 yang dirancang secara semi-modular, memungkinkan konsumen membuka penutup belakang menggunakan alat sederhana yang disertakan. Google juga tengah menyesuaikan rangka Pixel generasi berikutnya untuk mematuhi aturan tersebut.
Respons konsumen sangat positif. Diskusi di forum Reddit mengungkapkan antusiasme pengguna terhadap kemudahan penggantian baterai, mengingat baterai biasanya menjadi komponen pertama yang menurun performanya. Banyak yang berharap kebijakan ini akan memperpanjang usia perangkat dan menurunkan biaya perbaikan.
Namun, bukan berarti desain ponsel akan kembali ke era lama dengan casing yang mudah dilepas. Produsen diperkirakan akan mengadopsi desain semi-modular yang tetap menjaga estetika modern, namun memberikan akses ke baterai melalui sekrup atau pengait khusus yang dapat dibuka dengan alat gratis yang disertakan.
Pengaruh regulasi ini diperkirakan meluas ke pasar di luar Uni Eropa. Karena rantai pasokan global, perubahan desain yang diterapkan untuk pasar Eropa akan mempengaruhi model yang dijual di Asia, Amerika Utara, dan wilayah lainnya. Hal ini dapat mempercepat adopsi standar right to repair secara internasional.
Regulasi juga menyertakan kriteria ketahanan baterai: perangkat yang baterainya dapat mempertahankan setidaknya 80% kapasitas setelah 1.000 siklus pengisian dapat dikecualikan dari persyaratan lepas pasang. Kriteria ini menekankan pentingnya inovasi dalam teknologi baterai, selain aspek perbaikan.
Secara ekonomi, kebijakan ini dapat menciptakan peluang baru bagi penyedia layanan perbaikan independen, serta produsen suku cadang baterai. Di sisi lain, produsen harus menyesuaikan lini produksi, yang mungkin menambah biaya pengembangan pada awalnya. Namun, para analis menilai bahwa manfaat jangka panjang—termasuk pengurangan limbah elektronik dan peningkatan loyalitas konsumen—akan menutupi biaya transisi.
Jika jadwal berjalan sesuai rencana, tahun 2027 akan menjadi titik balik bagi industri smartphone. Konsumen di Eropa akan menikmati kebebasan mengganti baterai sendiri, sementara produsen di seluruh dunia akan beradaptasi dengan standar baru yang menekankan keberlanjutan dan kemudahan perbaikan.









