GemaWarta – 21 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 13 poin ke level Rp 17.667 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.653 per dolar AS.
Menurut analis, pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp 16.800 sampai Rp 17.500 per dolar AS. Hal ini disampaikan pada Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) di Gedung DPR, Jakarta.
Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif. Pada Rabu, 20 Mei 2026, rupiah ditutup menguat sebesar 0,48% ke level Rp 17.629 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan apresiasi terhadap mayoritas mata uang Asia lainnya.
Yuan China mengalami penguatan terhadap dolar AS sebesar 0,13%, diikuti won Korea juga menguat sebesar 0,06%, dolar Taiwan naik 0,11%. Ringgit Malaysia turut mengalami apresiasi terhadap dolar AS sebesar 0,18%. Sebaliknya, baht Thailand terhadap dolar AS turun 0,06%, peso Filipina melemah 0,03%, rupee India turun sebesar 0,34%.
Yen Jepang, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong terhadap dolar AS terpantau stabil. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan bahwa nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat di tengah berlanjutnya penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan mata uang Garuda didorong oleh sentimen positif domestik, terutama langkah pemerintah memangkas anggaran serta keputusan agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Pelaku pasar menilai kebijakan pemerintah melakukan efisiensi anggaran, termasuk pemangkasan pada program Makan Bergizi Gratis atau MBG, menjadi sinyal positif bagi pengelolaan fiskal nasional.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global. Meski indeks dolar AS masih melanjutkan penguatan, rupiah mampu bergerak stabil berkat kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dianggap pro stabilitas pasar.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve, kemungkinan perlu menaikkan suku bunga. Pasar kini memperkirakan ada probabilitas hampir 50% bahwa The Fed akan mengerek suku bunga setidaknya 25 basis poin pada akhir tahun.
Dari dalam negeri, pelaku pasar merespons positif pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) di DPR. Ibrahim menuturkan bahwa pemerintah akan membidik pertumbuhan ekonomi 2027 pada rentang 5,8% hingga 6,5% dengan asumsi kurs rupiah di kisaran Rp 16.800–Rp 17.500 per dolar AS.
Selain itu, sentimen internal turut disokong oleh langkah agresif BI yang memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kebijakan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi geopolitik global serta menjaga target inflasi.
Kesimpulan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam hal inflasi dan biaya impor. Oleh karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memantau kondisi ekonomi global dan mengambil kebijakan yang tepat untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menghindari dampak negatif dari penguatan dolar AS.











