GemaWarta – 20 April 2026 | Jumat, 20 April 2026, Jakarta – Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk varian Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dengan kenaikan rata‑rata mencapai hampir 50 persen di beberapa wilayah. Kenaikan ini memicu beragam respons dari lembaga pemerintah, pelaku industri, hingga konsumen akhir.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa selagi BBM bersubsidi tetap stabil, harga pangan tidak akan terpengaruh signifikan. Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa tarif angkutan komoditas pangan akan dipertahankan karena asosiasi logistik telah bersepakat mengikuti harga BBM bersubsidi yang tidak berubah.
Rincian kenaikan harga BBM nonsubsidi yang diumumkan pada 18 April 2026 meliputi:
| Produk BBM | Harga Sebelum | Harga Baru | Kenaikan (Rp/Liter) | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|---|
| Pertamax Turbo | Rp13.100 | Rp19.400 | Rp6.300 | 48,09% |
| Dexlite | Rp14.200 | Rp23.600 | Rp9.400 | 66,20% |
| Pertamina Dex | Rp14.500 | Rp23.900 | Rp9.400 | 64,83% |
Harga tersebut berlaku di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, serta secara nasional. Meskipun kenaikan tampak signifikan, para analis memperkirakan dampaknya pada inflasi bersifat terbatas.
Riset dari BRI Danareksa Sekuritas mengungkap bahwa BBM nonsubsidi menyumbang sekitar 44 persen dari total konsumsi BBM nasional, namun penggunaannya didominasi oleh segmen berpendapatan tinggi. Helmy Kristanto, Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa, menjelaskan bahwa kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan menambah inflasi hanya antara 0,02 hingga 0,15 poin persentase, jauh di bawah efek kenaikan BBM bersubsidi.
Di lapangan, reaksi paling keras datang dari kalangan logistik, terutama di wilayah Batam, Kepulauan Riau. Yasser Hadeka Daniel, ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, menyampaikan bahwa lonjakan harga Dexlite dan Pertamina Dex menambah beban operasional secara signifikan. Harga Pertamina Dex melonjak dari sekitar Rp14.800 menjadi Rp23.600 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter. “Biaya angkut barang, terutama yang bersumber dari luar pulau, dapat melambung dua kali lipat,” ujarnya.
Rafky Rasyid, ketua APINDO Batam, menambahkan bahwa peningkatan biaya BBM nonsubsidi dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah tersebut, mengingat ketergantungan tinggi pada pasokan laut dan darat. Ia menuntut pemerintah memberikan insentif atau akses BBM bersubsidi bagi pelaku logistik untuk menahan laju inflasi regional.
Sementara itu, Komisi VI DPR mengkritik prosedur sosialisasi kenaikan harga BBM, menilai bahwa publik dan pelaku usaha belum mendapatkan penjelasan memadai. Meski begitu, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini diperlukan untuk menyesuaikan harga BBM dengan dinamika pasar global, terutama setelah penurunan harga minyak mentah Brent yang sempat menurun hampir 10 persen.
Secara keseluruhan, kenaikan harga BBM nonsubsidi menciptakan tantangan baru bagi sektor transportasi dan logistik, namun dampaknya pada inflasi nasional diperkirakan tetap terkendali asalkan BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Pemerintah diharapkan terus memantau efek riil di lapangan dan menyiapkan kebijakan penyangga bagi konsumen dan pelaku usaha.
Dengan latar belakang ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan kebijakan energi global yang fluktuatif, situasi BBM di Indonesia tetap dinamis. Pengawasan ketat terhadap harga BBM bersubsidi serta koordinasi lintas kementerian menjadi kunci menjaga stabilitas harga pangan dan inflasi.











