GemaWarta – 22 Mei 2026 | Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% diperkirakan memberikan tekanan jangka pendek terhadap pasar modal Indonesia, terutama terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, kondisi tersebut dipengaruhi perubahan psikologi pasar yang mendorong investor melakukan penyesuaian strategi investasi.
Sektor properti dan teknologi berpotensi terdampak oleh kenaikan BI Rate, sementara perbankan diuntungkan. Kenaikan suku bunga acuan juga berdampak langsung pada kenaikan bunga pinjaman, termasuk cicilan KPR. Bagi nasabah yang memiliki KPR dengan bunga tetap, tidak perlu khawatir karena cicilan bulanan tidak akan berubah. Namun, bagi nasabah yang memiliki KPR dengan bunga mengambang, kenaikan BI Rate dapat membuat cicilan bulanan bertambah dalam waktu dekat.
Rupiah hari ini diprediksi tetap loyo meskipun BI Rate naik. Sentimen domestik dan global masih membayangi pergerakan mata uang rupiah. Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS.
Kondisi fundamental ekonomi seperti inflasi dan cadangan devisa juga akan turut menentukan arah rupiah. Bank Indonesia berencana untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik.
Dalam beberapa hari terakhir, IHSG telah melemah selama delapan hari perdagangan berturut-turut. Tekanan jual asing masih deras membayangi pasar saham Indonesia di tengah kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi nasional dan meningkatnya risiko global.
Langkah agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen belum mampu memulihkan kepercayaan investor maupun memperkuat rupiah secara signifikan. Rupiah masih bergerak di kisaran Rp 17.650-Rp 17.700 per dolar AS meskipun sempat menguat tipis pasca pengumuman BI Rate.
Kesimpulan, kenaikan BI Rate memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar modal, rupiah, dan KPR. Nasabah perlu mempertimbangkan opsi seperti restrukturisasi atau refinancing agar beban cicilan tetap terkendali di tengah tren kenaikan suku bunga. Selain itu, kondisi fundamental ekonomi dan sentimen domestik serta global akan turut menentukan arah rupiah dan IHSG.











