GemaWarta – 23 Juli 2026 | Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan skandal penyelewengan dan penimbunan BBM subsidi yang dilakukan oleh oknum nakal. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap adanya manipulasi masif yang dilakukan oknum nakal untuk menimbun BBM bersubsidi. Modus operandi yang terdeteksi cukup sistematis, yakni satu kendaraan beroperasi menggunakan banyak QR Code yang berbeda.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengungkap bahwa kendaraan yang sama dapat mengisi BBM berkali-kali dalam sehari menggunakan identitas barcode yang berbeda-beda. Bahkan, ditemukan kasus ekstrem di mana satu kendaraan mengisi BBM hingga 2.560 liter per bulan atau 200 liter per hari dengan QR Code berbeda, jauh melebihi batas legal.
Skandal ini tidak hanya terjadi di satu daerah, tetapi juga ditemukan di beberapa wilayah lainnya. Di Kupang, dua orang penimbun solar subsidi berhasil disikat polisi setelah menggunakan mobil modifikasi dan barcode untuk mengalirkan solar ke jeriken. Sementara itu, di Tangerang, layanan Samsat Keliling digelar untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan perpanjangan surat tanda kendaraan bermotor (STNK).
Dalam beberapa kasus, pelat nomor kendaraan juga menjadi sorotan. Di Sulawesi Selatan, keluarga korban penumpang wanita yang diduga menjadi korban pelecehan oleh konduktor bus mendesak armada bus Bintang Zahira Trans ditahan karena menggunakan plat putih tulisan merah yang diduga tidak layak beroperasi.
Skandal pelat nomor ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana oknum nakal dapat melakukan penyelewengan dan penimbunan BBM subsidi dengan mudah. BPH Migas dan pihak berwajib harus meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap oknum nakal yang melakukan penyelewengan dan penimbunan BBM bersubsidi.
Kesimpulan, skandal pelat nomor ini menunjukkan bahwa masih banyak kelemahan dalam sistem pengawasan dan penindakan terhadap oknum nakal yang melakukan penyelewengan dan penimbunan BBM bersubsidi. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan pengawasan dan penindakan terhadap oknum nakal untuk mencegah terjadinya skandal serupa di masa depan.











